Perjuangan Hafshah, Ibu Empat Anak

Posted on Posted in Perempuan

Hafshah, seperti namanya yang berarti harimau betina, benar-benar berperilaku seperti harimau betina, berjuang demi anak-anaknya yang jumlahnya 4 orang.  Nandi, sang suami, sangat tidak bisa diharapkan sebagai seorang pemberi nafkah keluarga.  Sebetulnya Nandi cukup baik.  Namun sifat malasnya itu membuat Nandi hanya bertahan menjadi tukang tambal ban saja, tanpa mau melakukan diversifikasi usaha apapun.

Padahal Nandi tahu bahwa upah sebagai seorang penambal ban tidak terlalu banyak.  Apalagi muncul bengkel-bengkel modern di sekitar mereka, yang membuat usaha Nandi tambah terombang-ambing.  Namun Nandi tetap saja setia dengan pekerjaannya tanpa menambah dengan usaha lain.  Mau tak mau, Hafshah tampil untuk ikut menopang penghasilan keluarga.  Menghidupi anak empat dengan usaha tambal ban saja, mana cukup!

Hafshah awalnya menjadi loper koran dan majalah setiap pekerjaan di rumahnya selesai di siang hari.  Pendapatannya memang minim, namun tetap saja dilakoni sambil mencari peluang pekerjaan lain.  Maklum, ia hanyalah tamatan SMP kelas 2.  Tidak mungkin seorang tamatan SMP kelas 2 melamar menjadi pelayan toko.  Sehingga disyukurinya saja pekerjaan sebagai loper koran. Apalagi pekerjaan berjualan koran dapat dilakukannya sambil menggendong Hasan, anaknya yang paling kecil.

Keempat anaknya memang masih kecil.  Nanto, anaknya yang tertua, masih kelas 4 SD.  Cita-cita Hafshah sangat tinggi untuk Nanto.  Ia ikhlas bekerja keras demi tetap dapat menyekolahkan anak sulung yang diharapkannya itu setinggi mungkin.  Anak kedua, Nuri, kelas 1 SD.  Nuri ikut bersekolah bersama Nanto.  Hafshah sendiri tidak bisa memperkirakan berapa lama ia bisa menyekolahkan Nuri.  Namun tekadnya sudah kuat untuk membanting tulang demi pendidikan mereka.

Anak ketiganya, Hani, masih balita dan dititipkan pada tetangga yang memiliki anak seusia.  Sedangkan Hasan selalu dibawa-bawanya kemana-mana.  Ini karena Hasan masih menyusu padanya dan belum bisa dititipkan pada siapa-siapa.  Hafshah juga terpaksa melepas anak pertama dan keduanya untuk pergi ke sekolah berdua dan pulangnya berdua saja tanpa bisa mengantar atau menjemputnya.  Biasanya Nanto dan Nuri akan berdiam di rumah, menunggu hingga Hafshah pulang bekerja.  Hafshah sendiri telah menyiapkan makan sekedarnya bagi kedua anaknya tersebut.

Setelah sekian lama menjadi loper Koran, Hafshah melihat peluang lain.  Ia melihat bagaimana supir-supir bis yang sedang mangkal membutuhkan minuman dan makanan kecil.  Mulailah ia berdagang teh dan kopi yang dibungkus kantong plastik, serta berbagai gorengan sambil tetap berdagang koran.  Supir-supir bis tersebut rupanya juga sangat menghargai kerja keras Hafshah.  Sehingga tidak ada satupun dari mereka yang berperilaku kurang ajar pada Hafshah.  Apalagi mereka juga merasa tertolong dengan apa yang diupayakan ibu muda tersebut.

Dari yang awalnya hanya membawa satu termos berisi minuman dalam kantong plastik ditambah satu ember gorengan, kini Hafshah dapat mendirikan kiosnya sendiri.  Rupanya ada satu kios rokok bekas yang dioper oleh pemiliknya yang terpaksa harus pulang kampung karena ibunya sakit.  Kios tersebut dibersihkan dan dilengkapi dengan berbagai jenis jajanan hasilnya kasbon di warung cik Lin di pasar.  Tak membutuhkan waktu yang lama, usahanya tersebut kian berkembang.

Sayangnya keberhasilan Hafshah tidak disyukuri sang suami.  Nandi bertambah iri dengan usaha sang istri yang semakin menunjukkan hasilnya.  Ada saja ulahnya untuk menguasai kios milik sang istri.  Hafshah sendiri sebetulnya mau saja merelakan kios tersebut untuk Nandi, namun Nandi terlalu malas untuk menjalankan kios sang istri.  Kerjanya hanya tidur-tiduran di dalam kios dan tidak memedulikan kebutuhan supir-supir bis tersebut akan makanan dan minuman.  Mau tak mau usaha tersebut diambil alih kembali oleh Hafshah.

Hafshah akhirnya berinsisiatif memindahkan usaha tambal ban sang suami ke sebelah kiosnya.   Ia kini tidak hanya direpotkan oleh Hasan dan usahanya, namun juga kerewelan Nandi yang menuntut perhatian lebih padanya.  Nandi yang kerap dilanda cemburu dengan sikap supir-supir bis tersebut pada sang istri membuatnya sering berulah.  Namun semua dijalani Hafshah dengan ikhlas.  Dalam benaknya yang penting ia dapat terus menjalankan usahanya demi keempat anaknya.

Tak terasa sudah 10 tahun usahanya tersebut dijalankan Hafshah.  Dari sebuah kios, lama-lama usahanya berkembang pesat menjadi sebuah supermarket mini yang ada dalam kompleks terminal bis tempatnya mangkal.  Anak-anaknya sudah semakin besar.  Tidak hanya Nanto yang berhasil meneruskan sekolah hingga SMP.  Nuri, Hani dan Hasan pun dapat disekolahkannya.  Kini ia memiliki cukup tabungan untuk menyekolahkan mereka hingga jenjang yang cukup tinggi agar mereka bisa mandiri kelak.

Sedang suaminya, Nandi, tetap saja menjaga kios tambal ban miliknya satu-satunya.  Namun Hafshah selalu membesarkan hati suaminya dengan bercerita pada siapa saja bahwa kios yang dikelolanya bukan benar-benar miliknya, namun milik suaminya.  Sambil diam-diam berkata dalam hati bahwa ijin suami untuk berusaha itulah yang sudah sangat disyukurinya yang diyakininya sebagai doa yang mujarab untuk membantunya membesarkan usahanya sehingga seperti yang sekarang. [esthi]