Sakitnya Kristi

Posted on Posted in Perempuan

Kristi seorang mahasiswi semester  akhir yang tampak selalu ceria.  Ia dikenal aktif dan tergabung dalam kelompok mahasiswi pencinta alam.  Tidak ada yang tahu bahwa diam-diam Kristi pernah menderita penyakit berat.  Memang beberapa kali Kristi absen kuliah karena sakit.  Namun teman-temannya mengira bahwa Kristi hanyalah menderita penyakit-penyakit ringan, seperti sakit kepala atau flu.  Karena daya tahan tubuh gadis itu memang tampak lemah, sehingga mereka tak heran jika Kristi absen karena sakit.

Namun tidak ada yang tahu bahwa Kristi pernah diserang sejenis kanker pada indung telurnya sebelah kiri.  Untungnya dokter cepat bertindak lewat operasi dan beberapa kali sesi kemoterapi ringan.  Sehingga organ Kristi yang lain selamat dari penyakit yang ganas itu, dan Kristi dinyatakan sembuh setelah tiga tahun tidak muncul gejala kekambuhan atas penyakitnya tersebut.  Walaupun demikian, gadis itu masih berada dalam observasi dokter dan masih harus menjaga fisiknya.

Hebatnya Kristi tidak pernah sekalipun mengeluh akan sakitnya tersebut, sehingga hanya Rani, sahabat terdekatnya yang mengetahui riwayat dirinya.  Semua temannya tidak pernah menduga bahwa Kristi pernah sakit demikian berat.  Sehingga merekapun tidak memperlakukannya seperti seorang yang sakit berat.  Memang itulah tujuan Kristi untuk tidak memberitahukan teman-temannya.  Ia tidak ingin dianggap penyakitan di depan mereka.  Ia tidak ingin teman-temannya mengasihani dirinya.

Sehingga itulah yang tampak di muka teman-temannya.  Kristi yang selalu tampak ceria, Kristi yang rajin walaupun kerap absen.  Kristi yang aktif dan banyak lagi hal-hal positif dari gadis manis itu yang dikenali mereka.  Tidak heran jika beberapa orang laki-laki tampak berusaha mendekatinya.  Berada di dekat Kristi memang selalu menyenangkan.  Candaannya yang khas dan gelak tawanya yang renyah menjadikan Kristi kesayangan teman-temannya.

Diantara beberapa laki-laki yang tampak berusaha mencari perhatian Kristi, Jodilah yang tampak paling serius.  Jodi tampaknya sudah jatuh hati sejak pertama kali ia bertemu Kristi di hari pertama mereka kuliah.  Baginya Kristi seperti musim semi yang selalu membawa pengaruh positif pada daerah-daerah yang dilewatinya.  Di dekat Kristi sepertinya semua kegundahan lenyap.  Senyum lebar Kristi yang selalu mengembang membawa perasaan hangat di hati laki-laki yang satu ini.

Dengan berlalunya waktu, Jodi semakin mantap untuk menjadikan hubungannya dengan Kristi yang selama ini hanya berteman akrab memasuki fase yang lebih serius.  Ia tinggal menyelesaikan skripsi, begitu pula Kristi.  Apalagi pamannya sudah menawarkannya untuk magang di perusahaannya setelah lulus nanti, sebelum ia mendapatkan pekerjaan sendiri.  Tapi Jodi tak terlalu khawatir dengan karirnya.  Sebagai mahasiswa berprestasi, sudah ada beberapa perusahaan yang menawarinya bergabung di tempat mereka.

Itu yang membuatnya makin yakin dengan masa depannya.  Sayangnya belakangan ia dibuat bingung oleh ulah Kristi yang kerap menghindar darinya.  Pertanyaannya untuk diperbolehkan main ke rumah Kristi dan berkenalan dengan kedua orangtuanya ditanggapi dingin oleh gadis itu.  Bahkan di kampuspun Kristi semakin sulit ditemui.  Selalu ada saja alasannya jika ia meminta berbicara serius dengannya berdua saja.

Pintu terakhir adalah Rani.  Terpaksa Jodi mendekati Rani untuk mau membantu mendekatkannya pada pujaan hatinya tersebut.  Namun Rani hanya terdiam kaku.  Dengan mata berkaca-kaca dan ucapan yang terbata-bata gadis itu bertanya padanya;

“Apakah kau serius dengan Kristi?  Berapa dalamkah cintamu padanya?  Apakah kau bisa menerimanya apa adanya?”

Bingung dengan serentetan pertanyaan tersebut, Jodi menjawab:

“Tentu saja aku serius.  Kristi gadis impianku sejak pertama kali aku berjumpa dengannya.  Tentu saja aku akan menerimanya apa adanya.  Karena apa yang ada padanya sangat kusuka!”

“Sebetulnya Kristi juga suka padamu.  Tapi cobalah untuk memikirkannya matang-matang!”

Setelah mengatakan ini Rani pergi begitu saja dengan wajah yang sulit diterka.  Jodi bingung mengapa Rani memandanginya seperti itu.  Wajah Rani seperti menunjukkan kesedihan dan kegalauan yang amat sangat.  Rani mengatakan bahwa Kristi menyukainya, namun mengapa ia justru terlihat berduka?  Hingga enam bulan kemudian Jodi semakin sulit menemui kedua gadis itu.  Mereka seperti menghilang begitu saja.  SMS maupun teleponnya tidak pernah dihiraukan mereka.

Perlakuan Kristi maupun Rani membuat skripsi Jodi berantakan.  Ia dinyatakan belum boleh mengikuti sidang sarjana dengan alasan data belum lengkap.  Mukanya terlihat semakin kusut, bulu-bulu halus memenuhi cambang dan jenggotnya menandakan laki-laki ini sudah lama tidak mengindahkan kebersihan wajahnya.  Tidak ada yang mampu mencairkan kemurungan laki-laki muda tersebut,  hingga suatu hari Kristi datang menemuinya.

“Mengapa kau melakukan ini pada dirimu sendiri Jodi.  Apa yang membuatmu hancur seperti itu?”

“Kau!  Kemana saja kau selama ini?  Kau hilang begitu saja tanpa memberikan aku kesempatan mengungkapkan apa yang memenuhi hatiku!  Aku serius Kristi!  Aku ingin melamarmu setelah aku lulus nanti!”

“Aku tahu.  Tapi kau belum mengenali aku seutuhnya.  Aku pernah menderita sakit Jod.  Sakit yang membuat aku harus kehilangan satu indung telurku.  Aku tidak pantas menjadi istri bagi laki-laki sebaik engkau!  Kau harus mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku”

“Kau pikir aku tidak tahu?  Aku tahu semuanya!  Kakakku asisten dari dokter yang merawatmu.  Awalnya ia tidak mau memberitahukan padaku karena etika kedokteran yang melarangnya untuk begitu.  Namun ia tidak tega melihatku kehilangan semangat seperti ini.  Setelah mendengar itu aku justru semakin mengagumimu.  Kau begitu tegar menyimpan penderitaanmu di antara canda-candamu.  Tidak ada yang menyangka kalau kau pernah begitu dekat dengan maut.  Aku menerimamu apa adanya Kristi.  Percaya padaku.  Masih banyak anak yatim piatu yang butuh perhatian kita jika penyakitmu itu menghalangi kita untuk memperoleh anak sendiri.”

Kristi tidak percaya dengan apa yang didengarnya.  Ia pernah berpikir untuk tidak menikah seumur hidup karena tidak ingin menyiksa calon suaminya dengan penyakitnya ini.  Apalagi indung telur sangat vital bagi organ reproduksi seorang perempuan untuk mendapatkan anak sendiri.  Ternyata Jodi, laki-laki yang belakangan ini sangat menyita perhatiannya, dapat menerimanya apa adanya.  Ia sungguh tidak menduga bahwa Allah Swt. akan selalu menjawab doa-doanya, bahkan doa yang tidak berani diucapkannya dalam hati.  Tapi sudah pasti Allah Swt. mengetahui isi hatinya yang paling dalam.  Untuk pertama kali setelah pernah dinyatakan sakit, baru Kristi merasakan bahagia yang amat sangat.   Sebentuk bahagia disertai syukur pada Yang Maha Esa. [esthi]