Q&A : Benarkah Anak Sepenuhnya Tanggungjawab Ayah?

Posted on Posted in Qur'an & Answer

Tanya :
Assalamulaikum pak ustaz, saya wanita muslimah yang pernah menikah dan dikaruniai satu orang anak. Saya bercerai dan hak asuh anak jatuh ke tangan saya(karena memang saya yang meminta karena pada waktu itu saya belum tahu kalau anak adalah tanggung jawab ayah,bukan ibu). Saat ini saya sudah menikah lagi. Tetapi suami saat ini tidak mengijinkan saya menanggung jawab anak (hasil dari pernikahan yang pertama) dengan alasan kalau anak tersebut bukan tanggung jawab saya dan juga bukan tanggung jawab suami saat ini, melainkan tanggung jawab mantan suami. Dari umur 2 tahun, sang anak tinggal bersama orang tua kandung saya karena saya harus bekerja. Sekarang saya bersedih dan bingung dengan keadaan ini,saya sayang sekali dengan anak saya dan saya merasa berat serta tidak tega apabila hak asuh anak saya berikan kepada mantan suami saya. Tetapi jika tetap bersama orangtua saya dan saya tidak bisa memberikan uang untuk kebutuhan anak (sedangkan suami saat ini tidak mengijinkan saya bertanggung jawab penuh atas anak dari mantan suami) ditambah keadaan ekonomi orangtua saya yang kurang mampu. Apa benar secara hukum agama, anak adalah sepenuhnya tanggung jawab ayah bukan ibu?
Mohon dalil atau firman Allah tentang hal ini? dan bagaimana saya harus bersikap?
Saya sayang sekali sama anak tapi saya juga tidak mau menjadi istri durhaka ataupun melanggar larangan agama.
Mohon pencerahanya.
Terima kasih.
Wassalaamu’alaikum.
[Nur via email ke redaksi]

Jawab :
Waalaikumussalam wr. wb.
Dalam agama Islam, secara prinsip jika terjadi perceraian suami-istri dan mereka memiliki anak yang harus diasuh, hak asuh ada pada istri (ibu si anak). Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. bahwa ada seorang ibu mendatangi Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah! Anakku ini dulu tempat tidurnya adalah perutku, minumnya dari air susuku, sementara suamiku ingin mengambil (untuk mengasuhnya) dariku.” Rasulullah saw lalu berkata, “Kamu lebih berhak (untuk mengasuhnya daripada suamimu) selama kamu belum menikah lagi.” (HR Al-Hakim).

Tetapi soal berapa usia maksimum anak untuk diasuh oleh ibunya, ulama-ulama berbeda pendapat. Pendapat yang paling kuat adalah hak asuh ibu terhadap anaknya akibat perceraian itu sampai anaknya mencapai usia tamyîz, yakni usia ketika anak sudah dapat membedakan dan memilih, kira-kira tujuh tahun. Setelah itu, anak diberi kebebasan untuk menentukan pilihan apakah ikut ibunya atau ikut ayahnya. Terkait hal ini, Ibnu Al-Qayyim mengomentari hadis di atas demikian: “Hadis itu menunjukkan bahwa apabila suami istri bercerai dan mereka memiliki anak, istri (ibu si anak) lebih berhak (untuk mengasuh) atas anaknya selama tidak ada hal-hal yang menghalanginya atau selama anak belum bisa memilih. Dalam hal ini tidak diketahui ada perbedaan pendapat ulama. Khalifah Abu Bakar pun memutuskan demikian pada kasus Umar bin Khaththab, dan tidak diketahui ada sahabat yang mengingkari keputusan Abu Bakar itu.”

Walaupun hak asuh anak ada pada ibunya, tanggung jawab untuk menafkahinya tetap ada pada ayahnya, sampai anak itu mencapai usia akil balig. Baik anak itu tinggal bersama ibunya, neneknya, atau bersama siapa pun, kewajiban menafkahi itu tidak gugur dari sang ayah. Namun demikian, tidak berarti Ibu tidak boleh membantu memberi nafkah.
Dalam pandangan saya, biar saja anak ibu diasuh oleh neneknya, dan ibu mengirim uang untuk makan minumnya. Ibu juga perlu mengingatkan ayahnya (mantan suami ibu) bahwa dia masih tetap bertanggung jawab menafkahi anaknya.
Demikian saya kira, wallahu a’lam.
[Muhammad Arifin – Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an]