Benarkah Jika Pernikahan Anak Kesatu dengan Anak Ketiga Akan Berakhir Buruk?

Posted on Posted in Qur'an & Answer

Tanya :
Assalamulaikum Warahmatulahiwabarokatu.
Dear pak Quraish,
Saya dan keluarga calon suami saya sudah sama-sama saling suka. Mereka setuju jika saya menikah dengan putra mereka, begitu pun sebaliknya. Hanya saja ada satu masalah, keluarga calon suami saya orang Jawa kolot atau percaya hal-hal yang berbau kejawen. Menurut mereka anak pertama tidak akan baik jika menikah dengan anak ketiga -menurut kepercayaan tersebut- rumah tangga akan kacau dan rejeki akan sulit. Dan kebetulan saya anak ketiga dan calon suami saya anak pertama. Tapi mereka menyatakan rumah tangga pernikahan anak pertama dan ketiga akan baik baik asalkan mengikuti syarat, yaitu keluarga laki-laki tidak boleh hadir dalam acara akad nikah atau pun resepsi pernikahan. Saya sangat khawatir jika saya mengikuti syarat dan cara tersebut saya akan masuk ke dalam golongan orang-orang musyrik. Untuk itu pertanyaan saya dalam Islam, apa hukumnya mengikuti syarat-syarat kepercayaan seperti demikian? Dan apa yang sebaiknya saya lakukan?

Terima kasih.
Wasalamulaikum
[Ana via email]

Jawab:
Bismillahirrahmanirrahim,
Kepercayaan sebagian masyarakat Jawa itu saya kira lebih bersifat mitos yang tidak jelas dasarnya. Tapi kita tidak perlu heran, karena orang-orang Mekah sebelum Islam datang pun dahulu punya banyak kepercayaan, termasuk dalam hal perkawinan. Misalnya, mereka percaya bahwa pernikahan tidak boleh dilangsungkan pada bulan Syawal karena akan membawa keburukan bagi kehidupan pasangan yang bersangkutan. Tetapi ketika agama Islam datang, Islam tidak membenarkan itu. Tidak tanggung-tanggung, Rasulullah saw sendiri yang menikah pada bulan Syawal dengan Sayyidah Aisyah untuk menunjukkan ketidakbenaran kepercayaan mereka.

Selain masyarakat Jawa, masyarakat suku bangsa lain di Indonesia ini juga banyak yang mempunyai kepercayaan tertentu yang sering kali tidak jelas dasarnya. Pada masyarakat benua Afrika juga masih banyak sekali kepercayaan yang sangat sulit diterima. Bahkan pada masyarakat yang dianggap modern dan maju seperti di Eropa dan Amerika pun kepercayaan yang lebih dekat kepada mitos dan takhyul itu ada. Jadi, sekali lagi, dari sisi ini kita tidak perlu heran dengan sikap keluarga calon suami Anda. Tapi ini tentu saja tidak berarti bahwa kita membenarkan atau meyakini kepercayaan dan praktik-praktik seperti itu.

Ada beberapa hal mendasar yang saya rasa perlu saya tekankan di sini. Pertama, soal apakah pernikahan akan sukses atau akan berantakan, itu sama sekali tidak ditentukan oleh posisi calon suami dan calon istri sebagai anak keberapa di dalam keluarga masing-masing. Tidak ada hubungannya sama sekali. Kalau ada hubungannya dan ada maslahatnya untuk manusia, pasti Islam sebagai agama terakhir sudah mengaturnya, walaupun secara tidak langsung. Sementara, kita tidak menemukan ketentuan semacam itu di dalam hadis-hadis Nabi saw, apalagi di dalam Al-Qur’an, secara eksplisit maupun implisit.

Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari cukup banyak kita temukan suami-istri yang merupakan pasangan dari anak pertama dan anak ketiga, dan ternyata kehidupan mereka baik-baik saja dan langgeng. Soal ada masalah-masalah kecil dalam pernikahan, itu biasa, dan semua pasangan suami-istri di dunia ini juga pasti mengalaminya. Sebaliknya, tidak sedikit juga pasangan yang secara zodiak dinilai cocok, menurut penanggalan Jawa juga sudah pas, tetapi malah berantakan. Jadi jelas sekali, keberlangsungan sebuah pernikahan bukan ditentukan oleh hal-hal seperti itu, melainkan lebih ditentukan oleh komitmen masing-masing pihak terhadap pasangannya dan, tentu saja, terhadap ajaran agama. Taufik dan hidayah Allah akan menyertai usaha manusia untuk merawat hubungan itu. Ini penting untuk kita pegang teguh.

Kedua, soal rejeki yang akan sulit jika pasangan itu adalah anak pertama dan anak ketiga, itu juga tidak ada hubungannya sama sekali. Rejeki sangat tergantung pada sejauh mana manusianya berusaha, meskipun ada juga yang sudah dijamin oleh Allah tanpa usaha manusia (seperti udara untuk bernafas dan lain-lain).

Terkait dengan syarat kedua, dalam Islam yang terpenting untuk hadir pada akad nikah adalah calon suami, ayah/wali calon istri, dan saksi. Calon istri pun boleh tidak hadir dalam akad nikah dan pernikahan tetap sah. Andaikata keluarga pihak calon suami Anda tidak hadir dalam akad nikah, itu tidak mempengaruhi sah-tidaknya pernikahan.

Hanya saja, pernikahan bukan hanya soal sah-tidak sah, tetapi juga soal membangun hubungan antara dua keluarga. Saran saya, upayakan melalui orang-orang dekat calon mertua Anda agar mereka tidak terlalu mempersoalkan ihwal anak pertama dan ketiga ini. Ada yang jauh lebih penting yaitu keteguhan kita berpegang pada ajaran Islam yang berdasar pada Al-Qur’an dan Hadis. Islam sendiri bukannya anti budaya, tetapi justru memberi nilai-nilai tauhid, nilai-nilai kemanusiaan, dan berbagai nilai yang lain pada kebudayaan.

Orang dekat itu bisa saja sesepuh keluarga, atau tokoh agama setempat yang disegani oleh ayah calon suami, atau tokoh masyarakat setempat. Kalau terpaksa, terus saja langsungkan pernikahan walaupun tanpa dihadiri oleh orangtua/keluarga pihak laki-laki. Pernikahan tetap sah walau tanpa dihadiri oleh orangtua pihak laki-laki. Jika ini yang menjadi pilihan, saran saya tidak perlu diadakan secara besar, cukup sederhana dan melibatkan orang-orang terbatas saja. Banyak orang akan banyak pertanyaan “mengapa”, dan akan sulit menjelaskannya.

Yang tidak kalah penting, mengadulah kepada Allah. Allah tidak pernah mengantuk, apalagi tidur. Saya ikut berdoa semoga Allah memudahkan Anda untuk menjalankan ibadah kepada-Nya.
Demikian, wallahu a’lam.
[Muhammad Arifin – Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an]