Bolehkah Melanggar Sumpah karena Menyesalinya?

Posted on Posted in Qur'an & Answer

Tanya:
Assalamu’alaikum.

Yth Dewan Pakar PSQ. Seminggu yang lalu saya bersumpah demi Allah tidak akan menghubungi seseorang yang saya benci –katakanlah Si M–, baik melalui telepon, SMS, maupun alat komunikasi lainnya, karena saya merasa sakit hati atas perlakuannya kepada saya, hingga kami bertengkar. Namun sekarang saya merasa perlu menghubungi dia, bukan untuk mengungkit-ungkit permasalahan yang lalu, tetapi karena masalah pekerjaan. Apa yang harus saya lakukan?

Terima kasih.

Wassalamu alaikum wr. wb.

[Ega via formulir pertanyaan]

Jawab:
Wa’alaikumussalam. Bismillahirrahmanirrahim,

Sumpah demi Allah untuk tidak akan menghubungi seseorang, itu dapat dikatakan termasuk perbuatan tidak baik atau maksiat. Sebab, tidak menghubungi seseorang itu bisa mengandung arti memutus hubungan dengannya. Dalam hadits, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tidak halal bagi seorang Muslim untuk meninggalkan (dalam redaksi bahasa Arabnya: an yahjura) saudaranya lebih dari tiga hari”. (HR Bukhari, Abu Dawud, dan yang lain). Kata an yahjura di situ dapat berarti ‘menjauhi’, ‘mendiamkan (tidak mengajak bicara)’, dan sebagainya. Dalam versi riwayat Ath-Thabariy, ada tambahan redaksi berikut: Mereka berjumpa, tetapi yang ini berpaling (muka) dari yang itu, yang itu berpaling (muka) dari yang ini. Yang mendahului mengucap salam (menegur kembali), dialah yang terlebih dahulu masuk surga.

Berdasarkan hadits itu, mulailah menyapa terlebih dahulu teman Anda. Tidak ada salahnya, tidak ada ruginya, bahkan justru banyak untungnya.

Mengenai sumpah yang sudah Anda langgar, bersedekahlah dengan cara memberi makan sepuluh orang miskin seperti makanan yang biasa Anda makan, sebagai dendanya (kafarat). Ini berdasarkan firman Allah swt.: Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan seorang hamba sahaya. (QS Al-Maidah [5]: 89).

Demikian, wallahu a’lam.

[M.Arifin-Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an]

===

Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut:
[easy_contact_forms fid=2]

>> Jika mengalami kesulitan dengan form di atas, pertanyaan bisa juga dikirimkan melalui pesan ke Facebook Page Alifmagz.