Menebus Dosa Tanpa Dikisas

Posted on Posted in Qur'an & Answer

Tanya :
Assalamu’alaikum ustaz, saya mau bertanya. Apakah dosa besar di masa lalu yang mengharuskan di-qisas atau dicambuk dapat diampuni tanpa melalui proses qisasatau cambuk, karena di negara kita tidak berlaku hukum tersebut. Apa yang harus dilakukan para pelaku dosa besar tersebut agar terbebas dari dosa besarnya.

Jazakillah ustaz.

[Evi via Facebook Alifmagz]

Jawab :
Wa’alaikumussalam wr. wb.

Pada prinsipnya, ya. Semua kejahatan yang mewajibkan sanksi kisas atau hudûdsecara umum, pelakunya harus dikisas atau dikenakan sanksi hudûd sesuai ketentuan syariat. Jika terhadap pelaku sudah dikenakan sanksi kisas atau hudûd di dunia, maka sanksi itu sudah berfungsi sebagai penebus dosanya. Ini berdasarkan hadis Nabi saw yang bersumber dari Ubadah bin Ash-Shamit ra. di mana ia berkata, Suatu hari kami bersama dengan Rasulullah saw pada suatu pertemuan. Pada kesempatan itu Rasulullah saw bersabda, “Kamu sekalian berjanji setia kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan suatu apa pun, tidak berzina, tidak mencuri, dan tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan hak (sesuai ketentuan agama). Barang siapa di antara kamu menepati janji setia itu, maka pahalanya telah disediakan oleh Allah. Barang siapa terkena (melakukan) salah satu dari perbuatan-perbuatan itu lalu dikenakan sanksi, maka sanksi itu adalah kafarat (penebus) dosanya. Dan barang siapa terkena (melakukan) salah satu dari perbuatan-perbuatan itu lalu ditutupi oleh Allah (sehingga tidak terkena sanksi hudûd), maka urusannya pada Allah. Jika Dia berkehendak, Dia akan memaafkannya, dan jika Dia berkehendak (untuk tidak mengampuninya), Dia akan menyiksanya. (Muttafaq alaih).

Itu pendapat mayoritas ulama. Berbeda dengan pendapat mayoritas, ulama-ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa yang berfungsi sebagai penebus dosa (kafarat) bukanlah penerapan atau penjatuhan sanksinya, tetapi tobatnya si pelaku kejahatan itu. Jika telah dijatuhkan sanksi hudûd terhadap pelaku tetapi ia tidak bertobat, ia tetap dianggap masih berdosa.

Jika seseorang melakukan dosa besar yang seharusnya dikenakan sanksi hudûd tetapi tidak atau belum dikenakan (entah karena kejahatannya itu tidak diketahui, atau tidak ada saksi, atau karena pemerintah belum bisa menerapkannya karena satu dan lain sebab), ia tidak perlu mencari-cari hakim lalu melaporkan diri dan meminta dijatuhkan sanksi hudûd. Ia cukup bertobat dengan sungguh-sungguh dan memohon ampun dari Allah. Ini didasarkan pada sebuah riwayat di mana seseorang bernama Mâ‘iz suatu hari mendatangi Rasulullah saw mengaku telah melakukan zina dan berkata kepada beliau, “Sucikan aku.” (Maksudnya sucikan aku dari dosa zina dengan menjatuhkan sanksi hudud kepadanya). Rasulullah saw menjawab, “Celaka kau. Kembalilah, mohon ampun kepada Allah, dan bertobatlah kepadanya.” (HR Muslim).

Tampak jelas pada riwayat tersebut bahwa Rasulullah tidak menjatuhkan sanksi zina walaupun yang bersangkutan telah mengaku berbuat zina. Beliau justru menyuruhnya untuk beristigfar dan bertobat.
Saya kira riwayat ini cukup jelas untuk menjawab pertanyaan Anda. Terima kasih.
Demikian, wallahu a’lam.

[Muhammad Arifin – Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an]

===

Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut:
[easy_contact_forms fid=2]
>> Jika mengalami kesulitan dengan form di atas, pertanyaan bisa juga dikirimkan melalui pesan ke Facebook Page Alifmagz.