Bolehkah Menikah dengan Niat Bercerai?

Posted on Posted in Qur'an & Answer

Tanya :
Assalamualaikum wr.wb

Saya ingin bertanya,

Sebelumnya saya ingin bercerita terlebih dulu.
Saya seorang laki-laki usia 22 tahun, saya sudah mempunyai seorang kekasih, kami sudah pacaran selama 18 bulan lamanya. Selama itu dia yang menemani saya saat suka dan duka, bahkan hubungan kami sudah sangat jauh. Sampai-sampai saya benar-benar merasa nyaman dengan ia dan saya berniat akan menikahinya tahun depan.

Tapi sebuah kesalahan besar saya lakukan, saya telah berzina dengan perempuan lain yang tidak saya cintai hingga wanita ini meminta saya menikahinya. Bahkan ia mengancam saya kalau saya tidak menikahinya. Dia juga bilang dia hamil atas perbuatan saya. Tapi setelah saya cek ternyata dia sedang tidak hamil. Terlebih keluarga saya juga tidak menyetujui bahkan sangat menentang untuk menikahi wanita ini.

Pertanyaan saya:
1. Apa yang seharusnya saya lakukan? apa saya tetap harus menikahi wanita itu? sedangkan pada saat saya berhubungan badan dengannya dia sudah tidak perawan. Apa saya tetap wajib menikahinya walau saya tidak suka padanya?

2. Kalaupun saya menikahinya, saya tidak akan menyentuh dan mengabaikan dia, karena saya tidak mau menyakiti hati pacar saya lagi. Bahkan saya akan tetap menghubungi pacar saya. Apakah saya berdosa?

3. Apakah pernikahan tanpa restu keluarga itu tetap sah?

4. Bagaimana hukum pernikahan, yang sebelum menikah saya sudah mempunyai niat untuk menceraikannya?

Saya mohon jawabannya, sungguh saya sedang dilanda kegelisahan dan ketakutan yang sangat mendalam, karena saya tidak mau menikahi perempuan itu, akhlak perempuan itu menurut saya kurang baik dan tidak pantas untuk saya jadikan istri.
Mohon jawabannya.

Syukron.

wassalamualaikum wr.wb.

[Pertanyaan via Facebook Alifmagz]

Jawab:
W’alaaikumussalam wr. wb.,

Perlu kiranya kita pahami dengan baik terlebih dahulu apa itu pacaran dan apa pandangan Islam terhadap pacaran.
Pacaran dalam arti berdua-duaan, bermesra-mesraan, berpegang-pegangan, nonton berdua, jalan berdua dan sejenisnya tidak dibenarkan dalam Islam. Itu haram! Jika itu yang terjadi, maka pihak ketiganya adalah setan. Pihak ketiga ini akan terus menerus merayu, menggoda, dan memfasilitasi sehingga Anda berdua tergoda untuk melakukan hal-hal lebh jauh. Dan godaan pihak ketiga ini, seperti kita baca dalam banyak sekali ayat al-Qur’an, tidak terjadi sekaligus, tetapi bertahap: langkah demi langkah (khuthuwât).

Banyak sekali teks-teks al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. (nushûsh) yang menunjukkan larangan itu. Di antaranya firman Allah swt yang artinya: Wahai Nabi! Katakan kepada orang-orang yang beriman agar mereka menjaga pandangan mata mereka… (QS. An-Nûr: 30-31). Jika memandang lawan jenis yang dibarengi dengan nafsu syahwat saja harus kita jaga, maka tentu tindakan di atas memandang (memegang, berjalan berdua, dan sebagainya) lebih dilarang lagi.

Ada juga hadis Nabi saw yang maknanya kurang lebih demikian, “Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim). Mahram di sini bisa saja orangtuanya, kakak atau adiknya, dan orang-orang yang haram menikah dengannya. Ada juga hadis lain di mana Rasulullah saw bersabda, “Ketahuilah bahwa tidaklah ada seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim. Al-Hakim menyatakan hadis ini sahih. Pendapat ini disepakati pula oleh Adz-Dzahabi).

Berkhalwat dengan perempuan dengan ditemani oleh mahramnya inilah yang oleh banyak orang dimaksud dengan pacaran yang dibenarkan, atau pacaran yang “islami”. Dalam istilah lain, hal ini disebut dengan ta’aruf, yakni upaya saling mengenal calon pasangan dengan didampingi oleh mahramnya. Suatu saat ada seorang sahabat bernama Mughirah bin Syu’bah hendak meminang seorang perempuan. tetapi dia belum melihat calon istrinya itu, lalu Nabi saw menyuruhnya untuk melihatnya terlebih dahulu. “Lihatlah,” kata Rasulullah kepadanya, “karena hal itu akan lebih dapat menjamin kelanggengan kalian berdua.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, At-Tarmidzi, dan Ad-Darimi). Jadi, melihat dan menemui calon pasangan didampingi mahramnya dengan maksud mengenalnya lebih jauh dalam rangka pernikahan, itu boleh. Bahkan sebagian besar ulama mengatakan hukumnya sunah. Itu pertama.

Kedua, saya juga tidak mengerti mengapa Anda bisa-bisanya berzina dengan perempuan lain, bukan pacar Anda, yang tidak Anda cintai? Berzina dengan perempuan yang Anda cintai dan Anda berniat untuk menikahinya saja itu tidak boleh, apalagi dengan orang yang tidak Anda cintai? Apa sebenarnya yang terjadi dengan Anda. Dan, terus terang, saya tidak menangkap adanya penyesalan Anda terhadap kesalahan dan dosa besar itu.

Apa yang harus Anda lakukan? Bertobat dengan sungguh-sungguh, beristigfar, menyadari bahwa tindakan Anda itu salah dan menyesali kesalahan Anda, mengakui dosa Anda, dan memperbaiki diri dengan memperbanyak berbuat baik seperti bersedekah, membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Haruskah Anda menikahi perempuan yang telah Anda zinai itu? Tidak! Berzinanya saja sudah haram dan termasuk dosa yang amat besar. Astaghfirullaha-l-‘azhim.

Perempuan, seperti halnya laki-laki, adalah manusia yang memiliki harga diri dan kehormatan. Ungkapan Anda bahwa ketika Anda berhubungan badan dengan perempuan itu ia “sudah tidak perawan lagi”, itu mengesankan bahwa seolah-olah kalau sudah tidak perawan lagi ia sudah tidak berharga dan kita boleh dengan bebas menggaulinya lalu meninggalkannya. Kalau itu pandangan Anda, sungguh pandangan yang merendahkan! Mudah-mudahan saya keliru.

Mengenai izin orang tua, ada keharusan terutama bagi perempuan. Seorang perempuan tidak bisa menikah tanpa wali (wali itu bisa saja ayah, kakak, adik, paman, dan seterusnya).

Terakhir, pernikahan itu harus diniatkan untuk jangka panjang yang abadi (li at-ta’bîd) seumur hidup. Tidak ada yang memisahkan pasangan kecuali kematian. Kalau sejak awal sudah punya niat untuk bercerai, lebih baik tidak usah menikah. Sejak awal pernikahan itu sudah tidak baik, karena dibangun di atas pondasi yang lemah.
Demikian, wallahu a’lam.

[Muhammad Arifin – Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an]

===

Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut:
[easy_contact_forms fid=2]
>> Jika mengalami kesulitan dengan form di atas, pertanyaan bisa juga dikirimkan melalui pesan ke Facebook Page Alifmagz.