Saat Berbicara tentang Dosa, Mengapa Tak Sebut Bilangan Kelipatan dalam Islam?

Posted on Posted in Qur'an & Answer

Tanya:
Yth Dewan Pakar,

Adakah makna dan penjelasan kenapa Agama kerap kali menyebutkan pahala dengan bilangan, misalkan 2 kali lipat, 70 kali, 100 kali, namun tidak mencantumkan bilangan ketika berbicara dosa?
Dan apakah bisa perkembangan zaman mempengaruhi rincian beragama?

Hormat Saya,
Yos
[Pertanyaan via Facebook Alifmagz]

Jawab:
Mohon maaf, saya belum menemukan penjelasan mengenai apa yang Saudara tanyakan. Tetapi memang di dalam Al-Qur’an ada penegasan bahwa pahala dapat dilipatgandakan secara kuantitatif (angkanya: 10 kali, 100 kali, dan seterusnya) dan juga kualitatif (caranya, bentuknya), sedangkan dosa hanya dilipatgandakan secara kualitatif saja. Mari kita perhatikan firman Allah swt. berikut ini: Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi). (QS Al-An‘âm [6]: 160). Dalam ayat lain dinyatakan: Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim. (QS Asy-Syûrâ [42]: 40).

Ayat ini diperjelas oleh hadis Rasululah saw.: “Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak [jadi] melakukannya, Allah tetap mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian melakukannya, maka Allah mencatat baginya pahala sepuluh kebaikan di sisi-Nya, hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu kesalahan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Pelipatgandaan pahala itu pun ada waktu dan tempatnya. Jika kita salat sunah dua rakaat di Masjidilharam, pada hari Jumat, pada bulan Ramadan pula, kita berpeluang untuk mendapat pahala berkali-kali lipat. Sebaliknya jika kita berbuat dosa di Masjidilharam, pada hari Jumat juga, pada bulan Ramadan juga, kita akan dibalas hanya dengan satu kali siksa saja, tetapi bentuk atau cara penyiksaannya yang berlipat-lipat seperti lebih kejam dan sebagainya.

Selain itu dapat dijelaskan bahwa manusia cenderung ingin memeperoleh sesuatu yang lebih banyak daripada yang ia keluarkan. Jika kita menjual HP dengan mendapat keuntungan dua ratus ribu rupiah, misalnya, kita tentu saja senang. Tapi kita akan lebih senang lagi kalau keuntungan itu bisa empat ratus ribu, lima ratus ribu, atau bahkan lebih dari itu. Itu sudah tabiat manusia. Allah yang menciptakan manusia tentu saja tahu persis kecenderungan manusia itu. Makanya, dalam beberapa ayat al-Qur’an, Allah menjanjikan pahala berlipat: dua kali, tujuh kali, sepuluh kali, seratus kali, seribu kali, dan seterusnya. Ini disebut targhîb: memotivasi orang untuk suka melakukan kebaikan. Diharapkan dengan cara seperti itu kita akan terdorong untuk terus berbuat baik.

Dan nyatanya memang demikian. Bukankah keinginan kita begitu kuat untuk dapat beribadah pada malam lailatulkadar (laylat al-qadr)? Bukankah banyak orang yang sehari-harinya jarang beribadah, tetapi ketika tahu keutamaan hari Jumat, atau keutamaan Ramadan, atau keutamaan lailatulkadar, ia menjadi sangat terdorong untuk beribadah? Apa kira-kira motivasi kita untuk beribadah lebih giat pada malam itu kalau bukan ingin memperoleh pahala yang lebih baik dari seribu bulan itu?

Akan halnya dosa, seperti disinggung di atas, pelipatgandaannya berlaku secara kualitatif, tidak kuantitatif. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa jika istri-istri Nabi saw. berbuat dosa yang keji, siksanya akan dilipatgandakan: Wahai istri-istri Nabi! Barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya azabnya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Dan yang demikian itu, mudah bagi Allah (QS Al-Ahzâb [33]: 30). Di dalam surah lain, Allah swt. Berfirman yang maknanya: Mereka tidak mampu menghalangi (siksaan Allah) di bumi, dan tidak akan ada bagi mereka penolong selain Allah. Azab itu dilipatgandakan kepada mereka. Mereka tidak mampu mendengar (kebenaran) dan tidak dapat melihat(nya). (QS Hûd [11]: 20). Pelipatgandaan itu berbentuk siksanya lebih keras.
Itu semua sejalan dengan sebuah hadis qudsi di mana Rasulullah saw. bersabda, “Allah berfirman, ‘Rahmat-Ku lebih dahulu daripada marah-Ku.’” (Kitab Shahîh Al-Bukhârî dan lainnya). Allah mendahulukan sayang-Nya dengan menyebut angka pelipatgandaan pahala, daripada marah-Nya dengan tidak menyebut angka berapa kali lipat).

Mengenai pengaruh perkembangan zaman terhadap pelaksanaan rincian beragama, ada. Misalnya, dalam fikih mazhab Syafi’i disebutkan bahwa transaksi jual beli dianggap sah kalau ada ijab kabulnya. Penjual mengatakan, “Saya jual barang saya dengan harga sekian,” lalu pembeli menjawab, “Saya beli barang Anda dengan harga sekian,” atau ungkapan lain yang semakna. Saat ini sulit rasanya bertransaksi dengan cara itu di mal, supermarket, atau bahkan di toko swalayan kecil seperti Indomaret dan Alfamart. Kita cukup lihat barang dan harganya, cocok, ambil, bawa dan serahkan kepada kasir, ditempelkan pada alat sensor barcode, lalu kita bayar, selesai. Sering tidak terjadi ucapan apa-apa dari pembeli maupun penjual. Sahkah transaksi itu? Sah. Ijabnya penjual sudah diwakili dengan harga yang tertera di rak-rak display barang, dan kabulnya pembeli sudah diwakili dengan kesiapannya membayar. Begitu juga dengan membayar tol dengan menggunakan e-toll, tidak ada komunikasi apa-apa antara dua pihak yang bertransaksi, tetapi transaksi itu dinilai sah.
Demikian, wallahu a’lam.

[M. Arifin – Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an]

===

Anda juga bisa bertanya melalui pesan ke Facebook Page Alifmagz.