Adiwarman Karim: Belajar Ekonomi Islam itu Sangat Nikmat

Posted on Posted in Silaturahmi

Tak terbayangkan sebelumnya, negara super power seperti Amerika Serikat mengalami krisis ekonomi. Tak seperti krisis yang melanda Asia tahun 1997/1998 yang hanya melanda negara-negara Asia saja, krisis finansial yang terjadi di Amerika Serikat merembet ke berbagai negara, bahkan mengancam perekonomian secara global.

Di sisi lain, ada pakar yang mengatakan bahwa krisis global yang diakibatkan oleh tak terkendalinya pembiakan uang lewat transaksi derivatif ini bisa mendorong penguatan ekonomi
syariah sebagai alternatif dan solusi.

Di Indonesia, ekonomi syariah sedang berkembang. Perkembangan ini ditandai maraknya pendirian Bank Umum Syariah [BUS] dan banyaknya bank-bank konvensional yang memiliki Unit Usaha Syariah [USS]. Dari sisi aset juga menunjukkan peningkatan. Pada akhir tahun 2007, aset yang dimilik perbankan syariah diperkirakan mencapai 35 trilyun rupiah, lebih besar dibanding posisi tahun 2006 yang hanya mencapai 26,7 trilyun rupiah.

Salah satu tokoh yang ikut mendorong perkembangan tersebut adalah Adiwarman Karim. Bapak tiga anak ini adalah tokoh intelektual dan akademisi sekaligus praktisi perbankan dan ekonomi syariah. Banyak Bank Umum Syariah yang lahir dengan bantuan pemikiran dan tangan terampilnya.

Ketertarikannya mempelajari dan mendalami sendi-sendi dasar ekonomi Islam berawal saat
ia mengikuti kuliah Marketing Management yang kebetulan dibimbing oleh A.M. Saefudin. Ia terkesan dengan penjelasan A.M. Saefudin bahwa di dalam ajaran Islam ada prinsip-prinsip dasar tentang ekonomi. Dosennya itu juga sedang menulis buku dasar-dasar ekonomi Islam.

Sejak itu, kegilaan untuk terus belajar ekonomi Islam tumbuh. Ia terus memburu buku-buku tentang ekonomi Islam. Baginya, belajar ekonomi Islam sudah menjadi hobi. Pria yang sering dipanggil Adi ini sempat kuliah di dua perguruan tinggi secara bersamaan, di Institut Pertanian Bogor [IPB] dan Universitas Indonesia [UI]. Tahun 1986 ia mendapat gelar Insinyur dari IPB. Dua tahun kemudian [1988] gelar MBA. diperolehnya setelah menyelesaikan studi di European University, Belgia.

Meski sudah mendapat gelar master, ia tetap melanjutkan studi ekonomi di UI yang sempat ditinggalkannya. Tahun 1989 gelar Sarjana Ekonomi dari UI menempel di belakang namanya. Gelar master keduanya diperoleh dari Boston University, Amerika Serikat tiga tahun berikutnya [1992]. Semangat belajar Adi yang besar itu membawanya ikut terlibat dalam sebuah riset di Oxford Centre for Islamic Studies sebagai Visiting Research Associate.

Kesempatan belajar di Amerika Serikat memberinya kesadaran baru. Ilmu ekonomi Islam yang ia pelajari di Amerika Serikat sangat berbeda dengan yang ia dapat di Indonesia. Kebanyakan, pelajaran ekonomi Islam di Indonesia masih berkutat pada penjelasan ekonomi menurut Al-Qur’an dan Hadits, belum sampai pada bagaimana menerapkannya. Sedangkan di Amerika Serikat, ilmu ekonomi Islam dibahas menggunakan perhitungan matematika dan prinsip-prinsip ekonomi modern sehingga relevan sekali jika diterapkan seperti ilmu ekonomi konvensional.

Hasrat mendalami ekonomi Islam lebih besar lagi saat mengambil mata kuliah Money and Finance. Dalam buku yang harus ia baca terdapat teori yang bernama Pareto Optimum. Pada catatan kaki buku itu dikatakan bahwa teori ini diperoleh dari buku Nahjul Balâghah karangan Imam Ali. Ia sangat terkesan. Ternyata orang Islam zaman dulu sudah berfikir tentang teori yang sekarang menjadi sangat modern.

Saat menjadi peneliti di Oxford, ia juga mendapat pencerahan. Ternyata seorang Adam Smith, bapak ekomomi dunia, sangat mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap Islam. Ia kemudian menjelaskan bahwa dalam buku ketiga Adam Smith di halaman 261 dituliskan sistem ekonomi dunia Arab saat dipimpin oleh Muhammad dan Khulafaur Rasyidin sangat maju.

Ia juga mengetahui, Adam Smith banyak memperoleh ide menulis buku saat berkunjung ke Prancis, khususnya ke bagian selatan. Zaman itu, penduduk di wilayah tersebut sedang gandrung tehadap buku-buku Islam. Setiap malam selalu ada diskusi dan bedah buku. Adam Smith sering mengikuti forum itu. Salah satu yang diikutinya membahas kitab Al-Amwal karangan Abu Ubayd. Kitab ini yang menjadi rujukan Adam Smith dalam menulis buku-bukunya.

Hal-hal yang mengejutkan semacam itulah membuat suami Rustika Thamrin ini merasakan nikmat mempelajari ekonomi Islam. “Kita seperti anak hilang yang mencari induknya, terus mencari dan mencari,” ungkapnya. Ia belajar sejarah, mencari bagaimana Rasul menerapkan ilmu ekonomi. Rasul adalah pedagang sukses tentu banyak yang bisa diterapkan di zaman sekarang. “Tentu semua itu harus dijelaskan dalam perspektif ilmu ekonomi modern,” jelasnya.

Penerapan ekonomi Islam pada tingkat negara ia pelajari sambil menyelesaikan tesisnya di Boston University. Ia memilih Iran sebagai bahan studinya karena penerapannya sudah pada level negara. Data-data tentang Iran juga mudah didapat karena dulu saat Shah Pahlevi berkuasa, Iran pernah menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat.

Dengan tesis semacam itu, awalnya ia enggan pulang ke Indonesia–karena tidak ada tempat untuk menerapkannya. Ia bekerja di bank Islam di luar negeri. Kemudian, A.M. Saefudin menyuratinya. Dalam surat itu dikabarkan bahwa di Indonesia sudah berdiri Bank Muamalat Indonesia [BMI] yang menerapkan konsep perbankan syariah. Ia pun pulang dan bekerja di bank tersebut sebagai staf bagian Penelitian dan Pengembangan [Litbang].

Karir Adi di BMI termasuk cemerlang. Setelah enam tahun di bagian Litbang, ia dipercaya menjadi pemimpin cabang BMI Jawa Barat. Kemudian ditarik kembali ke BMI pusat menjadi Wakil Presiden Direktur. Jabatan itu menjadi jabatan terakhir sebelum memutuskan keluar dari BMI.

Sebenarnya keputusan keluar dari BMI bukan perkara yang mudah baginya. Berkarir di perbankan syariah sudah menjadi cita-citanya sejak ia menjadi mahasiswa. Tetapi kemudian ia berfikir, ia harus konsisten memegang tanggungjawab. Kalau sudah berada di BMI maka ia tak boleh menangani bank lain. Padahal banyak bank yang membutuhkan tenaga dan pikirannya. Karena itu, ia harus keluar dari BMI untuk sesuatu yang lebih besar.

Setelah keluar, ia mendirikan perusahaan konsultan yang diberi nama Karim Business Consulting. Pada awalnya banyak orang yang pesimis dengan arah usahanya. Maklum dulu perbankan syariah belum berkembang seperti sekarang ini. Hanya BMI saja yang sudah menerapkan syariah. Tetapi jalur yang dipilihnya itu menjadikan ia ahli sehingga di saat ekonomi syariah berkembang dan banyak bank ingin membuat unit syariah, dialah yang pertama kali dipilih sebagai konsultannya. « [imam & esthi]