Hernowo: Karya Tulis Sarjana Agak Memprihatinkan (Bagian 2)

Posted on Posted in Silaturahmi

Penulis buku populer bertajuk Mengikat Makna ini memberikan banyak inspirasi bagi siapa saja yang mencintai dunia dunia baca dan tulis-menulis. Tak heran, dewasa ini, nama Hernowo begitu ternama dalam industri penerbitan buku dan pelatihan menulis. Selain dikenal sebagai motivator ulung bagi para calon penulis, Hernowo pun disebut-sebut sebagai pengamat industri penerbitan buku. Bagaimana ceritanya dia bisa menjadi seorang pakar dalam dunia buku dan tulis menulis? Bagaimana pandangan dia tentang kualitas karya tulis dewasa ini? Berikut petikan hasil wawancaranya dengan feature editor Alifmagz.com, Yogira Yogaswara. (Bagian 2)

Ada nggak cara atau sistem untuk mengetahui tulisan adalah plagiasi dan bukan? (khususnya karya tulis sarjana)

Ada sih ada. Bahkan di beberapa universitas di Barat—saya dengar beberapa universitas di Australia—telah mengembangkan sistem pendeteksian plagiasi ini hingga ke hal-hal yang sangat kecil. Plagiasi ini kan tindakan kriminal yang layak dihukum seberat-beratnya. Hanya, bisa jadi, tindakan plagiasi ini sifatnya halus sehingga sulit dideteksi. Bagi saya, plagiasi ini berhubungan erat dengan tingkat kejujuran seseorang—nah, sulit kan mendeteksi kejujuran?

Anda juga sekarang suka memberi training menulis. Rata-rata atas motif apa mereka ingin menulis?

Saya memang ingin lebih banyak orang mampu menulis (dan membaca), tentu, yang memberdayakan. Ini gara-gara latar belakang saya yang tak ada bakat menulis, tak ada keturunan penulis, dan tak ada jalur pendidikan bahasa khusus, tapi saya bisa membaca dan menulis secara memberdayakan.

Apa ya? Saya tentu tidak tahu secara persis. Jika saya diminta menebak ya jarang yang motifnya hobi atau untuk menambah penghasilan. Hanya orang-orang tertentu saja—dan bisa dihitung dengan jari—yang dapat hidup makmur dari menulis. Rata-rata motifnya ya untuk memenuhi tuntutan pekerjaan dan studi.

Ada yang bilang ”menulis adalah meditasi.” Bisa dijelaskan secara ringkas maksudnya?

Istilah itu berasal dari Susan Saughnessy. Dia menulis buku tentang menulis yang  dikaitkan dengan meditasi. Judul aslinya, Walking on Alligators: A Book of Meditation for Writers. Saya pun kemudian menafsirkannya karena terjemahan buku ini saya terbitkan lewat MLC (Mizan Learning Center) pada tahun 2004. Dari buku Susan, saya tahu bahwa kegiatan menulis itu bagaikan berpikir secara memusat (focus) dan kemudian pikiran mengolah secara dahsyat hal-hal yang difokusi. Saya pun mencoba mepraktikkan apa yang disarankan oleh Susan ini. Hasilnya menakjubkan.

Buku karya Susan itu pola penyusunannya memudahkan pembacanya—tentu para pembaca yang ingin membangkitkan potensi menulis atau mengatasi kejenuhan menulis—untuk melakukan meditasi. Ada tiga bagian di setiap halaman bukunya yang layak direnungkan oleh para pembacanya. Bagian pertama, Susan mengutip pernyataan hebat seorang tokoh. Bagian kedua, dia mengulasnya. Dan bagian ketiga, dia menyimpulkan dengan berjanji kepada dirinya sendiri untuk menerapkan apa yang disimpulkannya itu.

Bagian ketiga itulah yang menarik. Itu merupakan hasil dari sebuah meditasi lewat kegiatan menulis.

Menurut Anda, bagaimana aktivitas menulis bisa menjadi media pengembangan diri?

Menulis (tentu dibarengi dengan membaca) yang dapat membantu seseorang untuk mengembangkan diri merupakan concern saya. Membaca dan menulis tak hanya berhubungan dengan bahasa atau kegiatan berkomunikasi atau menulis skripsi, tapi secara sangat jelas—karena saya telah merasakan manfaatnya—sangat berhubungan dengan proses pengembangan diri.

Ini sangat kentara jika kita kaitkan dengan apa yang dewasa ini disebut sebagai knowledge management (KM). Dalam KM dikenal istilah ”tacit knowledge” (pengetahuan yang masih tersembunyi yang berada di dalam diri seseorang). Pengetahuan itu merupakan hasil dari pengalaman (bekerja, misalnya) selama bertahun-tahun. ”Tacit knowledge” akan hilang jika pemiliknya pindah kerja atau meninggal. Nah, agar ”tacit knowledge” itu tidak hilang begitu saja, perlu dieksplisitkan. Kata mengeksplisitkan ”tacit” inilah sesuatu yang sangat penting dalam KM. Apa itu mengeksplisitkan? Itu adalah kegiatan menulis!
Bayangkan jika banyak orang yang menyimpan pengalaman berharga kemudian dapat mengeksplisitkan dalam bentuk tertulis. Dia dapat berkembang tentu saja, lantas yang dia tulis dapat dibagikan dan dikaji oleh orang lain—dan ini jelas akan membuat orang lain berkembang. Nah, menulis untuk mengembangkan diri dapat kita bayangkan sebagaimana seseorang mengelola knowledge management (KM) tersebut.

Jika kita berbicara soal membaca, tentulah membaca akan memperluas wawasan seseorang. Saya lebih suka mengatakan begini: membaca akan ”menggerakkan” pikiran seseorang. Apabila pikiran tergerakkan, ada kemungkinasn pikiran yang tergerakkan tersebut akan mudah dalam memproduksi ide-ide segar dan baru. Apalagi jika ide-ide segar dan baru itu dapat dirumuskan secara tertulis. Tentulah orang tersebut akan terus dapat berkembang dan apa yang dirumuskan secara tertulis pun dapat dibagikan ke lebih banyak orang.

Ada tips-tips sederhana bagi penulis pemula yang seringkali masgul dalam  mengembangkan ide ke dalam bentuk tulisan?

Pertama, saya ingin setiap penulis pemula dapat menjawab pertanyaan penting ini: ”Untuk apa Anda menulis? Apa yang ingin Anda tuju dengan menulis? Dan apakah Anda benar-benar dapat merasakan manfaat menulis secara langsung dan nyata ketika Anda sedang menjalankan kegiatan menulis?”

Kedua, berusaha keraslah untuk memperkaya diri Anda dengan kata-kata terlebih dahulu, yaitu dengan membangkitkan motivasi untuk membaca. Bacalah buku-buku yang benar-benar ”bergizi” tinggi. Ini sangat penting karena jika Anda ingin mampu menulis dan Anda hanya membaca buku-buku yang biasa, maka menulis akan men jadi berat dan hasilnya pun akan banyak mengecewakan Anda.

Ketiga, menulis itu keterampilan, jadi perlu punya kemauan-hebat untuk mau membiasakan diri berlatih menulis setiap hari—meski hanya 15 hingga 30 menit.

Apa Anda  dengan adanya tulisan-tulisan dalam kemasan digital multimedia, seperti blog, e-book, apakah sebuah tanda-tanda dunia penulisan buku mulai berkurang peminatnya?

Ya, sekarang kita memang telah memiliki ”media baru” untuk mengedarkan tulisan—media itu tak hanya dalam bentuk kertas. Kita dapat membaca lewat HP, komputer, iPad tentang hal-hal yang disebar oleh internet. Jadi, selayaknya perkembangan baru ini kita sambut denga gembira karena membaca akan menjadi lebih murah, praktis, dan sangat kaya (bervariasi). Dalam bahasa yang lain, dengan adanya ”media baru” itu, kita takkan kehabisan bahan bacaan.

Menulis pun begitu. Kini menulis punya wadah yang kaya—ada blog, Facebook, mailing list (milis), dll. Bagi saya, ini selayaknya menjadi pendorong siapa saja untuk lebih hebat dan lebih giat dalam membaca dan, terutama, berlatih menulis. Dari sini, siapa tahu, akan lahir banyak penulis dan pembaca andal. Ini terbukti dengan larisnya buku KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) yang diterbtikan oleh DAR! Mizan. Buku KKPK—belum ada versi digitalnya—sangat diminati oleh konsumennya dan terus memunculkan penulis-penulis cilik baru.

Biodata singkat

Nama Lengkap: Hernowo
Tanggal Lahir: 12 Juli 1957
Pendidikan terakhir: Jurusan Teknik Industri ITB
Nama Istri:

Siti Rochana
Nama anak:

Fikri Muhammad Hernawan, Haula Luthfia, Khulqi Rasyid, dan Muhammad Huda Mustaqim
Hobi:

Membaca dan menulis (mengikat makna)
Aktivitas santai di luar pekerjaan: Bersepeda.

Pekerjaan  sekarang: Staf Ahli Penerbit Mizan
Pekerjaan sebelumnya: Direktur Mizan Learning Center (MLC)
Penghargaan/prestasi:

Dari Panitia World Book Day Indonesia I sebagai penulis  yang karya-karyanya menginspirasi para pembacanya untuk mau melakukan kegiatan membaca dan menulis yang memberdayakan.

Tulisan sebelumnya : Bagian 1.