Imam Sibawaih El-Hasany: Perjalanan Sesungguhnya dari Manusia itu adalah Perjalanan Menempuh Diri Sendiri

Posted on Posted in Silaturahmi

Mungkin belum terlalu banyak orang yang pernah mendengar nama Imam Sibawaih El-Hasany. Namun, pria kelahiran Brebes, 6 September 1974 ini, sebenarnya telah menulis beberapa buku yang berhasil diterbitkan, antara lain: Matahatiku Matahariku (Penerbit Zaman/Serambi, 2009), Syarah al-Hikam (Penerbit Zaman/Serambi, 2010; berhasil menjadi Best Seller), dan yang terbaru berupa novel berjudul Kyai Joksin (Penerbit Lentera Hati, 2012).

Pria yang akrab dipanggil Mas Imam ini, adalah putra dari pasangan (alm.) H. Chasan Chariri dan (almh.) Hj. Ruqiyah. Ia menyelesaikan pendidikan tingkat dasar dan menengahnya di MI dan MTS Nurul Islam, Slatri, Brebes. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan tingkat atasnya di MPAK Yogyakarta, sampai akhirnya berhasil lulus dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah sebagai Sarjana Syari’ah, pada tahun 1997.

Novel Kyai Joksin merupakan novel keduanya. Novel ini bercerita tentang perjalanan sipritual seorang kyai muda dalam melakukan pencarian jati dirinya serta bermacam hal luar biasa yang dialaminya selama proses pencarian tersebut. Pengalaman yang kemudian mendorongnya untuk merumuskan metode dakwah baru yang menurutnya lebih tepat sasaran. Berbagai kritik yang dia lontarkan terhadap beberapa tata cara dakwah dan ibadah yang sudah ada, juga metode dakwahnya yang di luar kebiasaan, membuatnya mendapat kecaman, bahkan sampai mengancam nyawanya.

Apa yang menjadi alasan Mas Imam menulis, khususnya novel Kyai Joksin ini? Apa yang ingin ia sampaikan dalam tulisan-tulisannya? Bagaimana keseharian sosok Mas Imam ini? Berikut petikan hasil wawancaranya dengan alifmagz.com.

Imam Sibawaih El-Hasany
Imam Sibawaih El-Hasany

Sejak kapan Anda mulai menulis?

Saya mulai menulis sejak duduk di bangku SMA. Pada saat itu kebanyakan tulisan saya berupa puisi. Kesukaan saya menulis merupakan warisan dari kedua orang tua saya. Darah seni mengalir dalam keluarga kami, dan banyak di antara kami yang memang senang merangkai kata-kata.

Sebenarnya, menulis itu dalam hidup saya hanya merupakan bagian dari perjalanan. Bukan inti dari perjalanan. Saya tidak tahu sampai kapan bagian perjalanan ini akan saya tempuh, tapi saat ini, saya sedang mempersiapkan bagian selanjutnya dari perjalanan saya. Saya pribadi berharap perjalanan setelah menulis itu bukan lagi menulis, tapi saya lagi pengen perjalanan berikutnya itu main musik. Saya sedang bermimpi untuk bikin grup band. Kalau selama ini kata-kata indah itu ditulis dalam bentuk novel dan tutur spiritual, saya pengen selanjutnya dinyanyikan.

Bagaimana ceritanya sampai Anda akhirnya menulis novel Kyai Joksin ini? Apa yang ingin disampaikan atau diceritakan dalam novel tersebut?

Saya sebenarnya menyebut hasil tulisan saya sebagai tutur spiritual, kalau kemudian dikategorikan sebagai novel, tentu yang paling paham penerbit dan orang-orang penerbitan.

Saya sebut tutur spiritual, karena sesungguhnya itu merupakan hasil belajar dari pengalaman menjalani dan mengalami perjalanan hidup sepanjang waktu yang saya tempuh itu. Dari situ saya mendapatkan hikmah-hikmah kehidupan, yang kemudian ada beberapa yang tersinergikan dalam buku-buku dan kitab-kitab klasik. Lalu saya pikir, daripada saya hanya mensyarah semacam al-hikam saja, gimana kalau kemudian diperluas menjadi tutur, sehingga orang bisa membacanya dengan lebih enak dan lebih paham.

Buku Kyai Joksin, sebenarnya tentang perjalanan menempuh diri sendiri. Saya ingin berbagi bahwa perjalanan sesungguhnya dari manusia itu adalah perjalanan menempuh diri sendiri. Kalau kita sudah tuntas menempuh diri sendiri, baru kita bisa mudah menempuh perjalanan menuju Allah. Saya ingin orang jadi tahu bahwa sesungguhnya, masalah hidup itu diawali dari ketidakmampuan kita menuntaskan diri sendiri. Entah dia itu orang awam, kyai, syekh atau siapapun, awal dari kemenangan menjalani hidup adalah kemenangan atas diri sendiri.

Dalam menulis buku itu, inspirasinya saya dapatkan dari perjalanan itu tadi. Dari persentuhan dengan pengalaman di perjalanan. Saya lebih banyak menghabiskan hidup di jalanan. Saya kan emang suka ngeluyur. Makanya punya kantor juga ngeluyur aja. Berbagai cerita yang saya tangkap dari perjalanan itu kemudian saya coba tuangkan di sini untuk dibagikan pada banyak orang. Saya cuma mau bilang kalau hidup itu sebenarnya simpel, selesaikan dirimu, baru kamu bisa menyelesaikan yang lainnya. Kita sering kan, memperbesar masalah karena kita menyalahkan masalah yang di luar diri kita, padahal problem inti itu diri kita sendiri.

Tokoh Kyai Joksin sendiri itu gambaran diri Anda?

Dalam beberapa novel saya, karena lebih cenderung pada tutur spiritual, sebenarnya sekitar 30% itu merupakan citra diri saya, meskipun 70%-nya akan tetap saya jadikan sebagai misteri. Jadi, mungkin dalam tokoh Kyai Joksin juga sebenarnya ada bagian dari diri saya. Terserah pada pembaca sejauh mana dan pada bagian mana mereka mau menganggap itu sebagai gambaran diri saya.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menulis buku Kyai Joksin ini?

Waktu yang saya habiskan untuk menulis semua buku saya itu rata-rata 10 sampai 14 hari.

Bagaimana prosesnya sampai Anda bisa menulis buku dalam waktu sesingkat itu?

Saya bukan penulis yang lahir dari pelatihan menulis. Ketika teman-teman saya minta diajari menulis supaya bahasanya indah, saya berusaha meyakinkan mereka kalau sesungguhnya menulis itu gampang kalau kita sudah mengalaminya. Jadi kita sekedar menetaskan pengalaman kita dalam bentuk tulisan saja. Bahkan, ada beberapa buku yang bisa saya selesaikan dalam waktu satu hari atau dua jam. Karena itu memang hanya merupakan sesuatu yang dikeluarkan dari diri kita kan?

Hal yang membuat ribet ketika kita menulis itu adalah jika kita menjadi penulis referensif, penulis yang repot mencari referensi, karena tidak ada dalam dirinya. Sehingga harus menghabiskan banyak waktu untuk mencari bahan-bahan untuk tulisannya.

Ketika sudah mulai menulis, saya bisa menghabiskan waktu sampai 20 jam sehari. Pada saat itu saya tidak bisa diganggu. Makan dan minum pun disuapi sama istri saya. Bahkan istri saya nggak boleh ngajak saya bicara. Karena pada saat seperti itu, saya sedang mengalirkan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan saya.

Kendala apa yang dihadapi ketika menulis? Pernah mengalami kebuntuan nggak sih?

Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, kendala dari semua hal sebenarnya adalah diri kita sendiri. Jadi kita hanya perlu kembali pada diri kita sendiri, membaca apa yang ada dalam diri kita. Sejauh ini, proses penulisan saya bisa dibilang lancar-lancar saja.

Karena bagi saya menulis itu bagian dari perjalanan saya menuju Allah, jadi saya nggak peduli, nggak pernah berpikir kalau tulisan saya itu bagus, jelek, atau apapun. Saya menulis saja. Saya tidak membangun rencana untuk menulis, tidak membangun kerangka-kerangka untuk membuat tulisan. Jadi mengalir saja. Saya tidak tahu dari ratusan naskah yang sudah selesai saya tulis, yang dikumpulkan oleh istri saya, mana yang mau diterbitkan, karena saya juga tidak berpikir harus diterbitkan.

Kalau begitu, apa motivasi Anda dalam menulis?

Bagi pejalan rohani menuju Allah, dalam setiap perjalanannya dia pasti ingin menyampaikan berita dan meninggalkan cerita. Saya cuma punya satu pikiran, bahwa kelak kalau saya meninggal ada satu jejak yang bisa ditelusuri orang dan anak keturunan saya. Saya juga sekedar ingin berbagi.

Dalam semua buku saya sebenarnya, yang utama ingin saya bagi adalah, bahwa yang kita cari di luar sana sebenarnya ada dalam diri kita lho. Yang membuat kita pusing dan menghabiskan usia, itu karena kita mencari sesuatu di luar sana yang hakikatnya ada di dalam diri kita. Bedanya mungkin pada bentuk saja. Buku Kyai Joksin, misalnya, lebih pada tarikat. Bagaimana kita hidup dengan cara kita dan tidak terganggu dengan cara orang lain.

Imam Sibawaih El-Hasany dan istri
Bersama istri tercinta

Kegiatan sehari-hari saat ini selain menulis?

Saya kerjanya ngeluyur, lebih banyak di jalanan. Kadang nganter istri ngajar di Unindra. Selama nunggu istri ngajar, saya juga suka gantiin tukang parkir di sana, tukang parkirnya saya suruh istirahat dulu. Kalau saya lagi pengen, saya ngantor. Memang itu juga permintaan saya ketika dikasih perusahaan penerbitan ini, jangan pernah paksa saya untuk ngantor dan biarkan penampilan saya apa adanya. Jadi saya memang tidak punya aktivitas tetap, cuma sekarang lagi konsen belajar musik saja, karena saya pengennya tahun ini saya sudah punya grup band.

Kalau penerbitan ini sendiri menerbitkan buku-buku semacam apa?

Orang yang memberikan penerbitan ini, maunya untuk menerbitkan buku-buku saya. Tapi saya pribadi sudah bilang sama teman-teman penerbit, kalau saya akan membagikan karya-karya saya ke semua penerbit. Jadi buku saya tidak diterbitkan oleh satu penerbit saja.

Penerbitan ini, Penerbit Gantar, itu masih baru sekali. Rencananya, selain menerbitkan beberapa buku saya, Gantar akan lebih banyak menerbitkan buku-buku spiritual dan kearifan-kearifan lokal.

Selain itu, Anda juga kabarnya sedang mengembangkan konsep taklim semesta di Lingkar Matahati. Bisa tolong diceritakan mengenai kedua hal tersebut?

Lingkar Matahati itu adalah suatu komunitas di mana kita sebenarnya mengaji, duduk melingkar dan bicara dengan matahati. Di sana tidak ada guru, tidak ada murid. Kita belajar mengupas kejujuran diri kita masing-masing. Tema besarnya tetap kita kembalikan pada Al-Qur’an dan Sunnah, tapi pembacaan Al-Qur’an dan Sunnah itu kembali pada pembacaan atas diri kita masing-masing. Karena pada akhirnya kan catatan kita pribadi yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Lingkar Matahati ini tidak mengenal tempat atau golongan tertentu. Siapapun boleh membangun lingkaran untuk ngaji bersama-sama. Sejauh ini, saya biasanya turun ke jalanan atau mana saja, mendatangi orang-orang yang membutuhkan, untuk kemudian membentuk lingkaran mata hati. Tujuannya untuk menjangkau orang-orang di luar sana, yang membutuhkan kehadiran kita, untuk tahu bagaimana menikmati rahmat Islam, bagaimana cara taubat tanpa harus dipermalukan orang lain.

Taklim semesta sendiri artinya kita belajar meleburkan diri kita dengan kesemestaan, sehingga hidup kita itu menjadi wajar seperti kewajaran perjalanan semesta sampai menunggu kiamat. Kita itu menjadi berat menjalani hidup karena berjalan memutar dan berbalik arah dengan putaran kesemestaan. Taklim semesta adalah taklim yang tidak melekatkan orang pada bentuk kelembagaan, sehingga kita tidak menghitung atau membanggakan berapa jumlah santri dan sebagainya. Kita hanya mengantarkan orang ke taman kesadaran, setelah itu, di taman itu dia mau duduk di pojok mana, silakan. Dari pengajian yang kita lakukan, kemudian muncul komunitas-komunitas pengajian yang berdiri sendiri, lepas dari Pesantren Semesta “Inayatullah” ini. [aca]