Yudhistira ANM Massardi Hijrah Ke Dunia Pendidikan

Posted on Posted in Silaturahmi

Banyak orang mengenalnya sebagai sastrawan, budayawan, dan wartawan. Banyak kerabat dan teman dekat mengenalnya sebagai sosok pendiam, tenang, dan murah senyum. Dia adalah Yudhistira ANM Massardi. Adik kandung kembaran Noorca ANM Massardi ini kini tengah asyik dengan “mainan” barunya: dunia pendidikan.

Yudhis, begitu biasa dipanggil. Dia dikenal sebagai penulis novel legendaris Arjuna Mencari Cinta dan kumpulan puisi mbeling Sajak Sikat Gigi. Meskipun terlahir sebagai anak desa Karanganyar, Subang, Jawa Barat, Yudhis bisa “menaklukan” ibukota dengan kata-kata. Ya, selama ini keberhasilan hidup Yudhis karena keahlian dan kemampuannya dalam mengolah kata menjadi beraneka karya, di antaranya, puisi, novel, cerpen, esai, kolom, kritik, dan karya jurnalistik selama ia menjadi wartawan dan pengarang.

Seperti juga Noorca, kakak kembarnya yang lahir 5 menit lebih dulu, Yudhis pun menyukai film dan teater. Ini bukti bahwa keduanya bak pinang dibelah dunia : selain keduanya berwajah mirip, minatnya juga sama, yakni pada dunia seni dan tulis menulis.

Namun setelah pensiun sebagai pemimpin redaksi majalah ESQ, nama Yudhis di dunia kepenulisan seperti redup. Karya-karya fiksinya pun seperti tidak lahir lagi. Lantas, kemana saja Yudhis selama ini?

Beberapa waktu lalu, Feature Editor Alifmagz, Yogira Yogaswara bersilaturahmi ke rumahnya, di kawasan Bekasi. Yudhis pun banyak bercerita tentang kegiatannya selama ini. Ternyata Yudhis masih aktif menulis. Lebih menarik lagi, dia pun kini aktif di dunia pendididikan. Ditemani Siska, sang istri tercinta, Yudhis berbagi cerita inspiratif seputar dunia pendidikan. Berikut adalah petikan wawancarannya.

Anda sebenarnya dikenal sebagai sastrawan, budayawan, dan wartawan, mengapa tiba-tiba terjun ke dunia pendidikan?
Istri saya yang menjerumuskan. Kalau ke sastra saya menjerumuskan sendiri. Kalau ke dunia pendidikan, berawal karena istri saya. Tiba-tiba dia tergerak ingin mendirikan sekolah TK (Taman kanak-kanak-red) untuk anak-anak tak mampu. Saya mendukungnya. Tapi Saya bilang “kamu harus siap. Begitu kamu mulai, nanti tidak boleh berhenti karena sekolah bukan perusahaan.” Awalnya saya juga berpikir bahwa mengelola TK itu apa susahnya. Ternyata susah juga. Apalagi anak-anaknya sulit sekali dididik. Cara mereka bicara, cara mereka mengendalikan diri, membuat istri saya tidak tahan. Dia sempat menangis. Tapi saya mengingatkan lagi bahwa tugas ini tidak bisa dihentikan.

Lantas apa yang mendorong Anda dan Istri meneruskan kegiatan itu?
Karena saya dan istri akhirnya menemukan metodenya, yaitu Metode Sentra. Metode ini didatangkan pertama kali ke Indonesia 15 tahun lalu, dari Florida, Amerika, lalu diterapkan di sekolah Al-Falah. Saya pikir metode ini luar biasa. Kalau metode pendidikan konvensional cenderung membangun pendidikan intelegensi, Metode Sentra lebih dari itu. Ada macam-macam kecerdasan yang bisa dibangun dengan Metode Sentra, seperti kecerdasan bahasa, musik, kinestetik, dan moral.

Metode ini sangat membantu pendidikan usia dini sehingga kelak bisa menyelamatkan bangsa. Bagi saya, politik dan media sulit sekali mengubah suatu bangsa. Hanya pendidikan yang bisa mengubahnya.

Ketika saya masih jadi wartawan, saya sudah tertarik pada Metode Sentra. Akhirnya setelah pensiun saya berkomitmen untuk ikut menjalankannya. Metode ini bagus sehingga harus diperkenalkan seluas-luasnya, jadi perlu juru bicara, perlu media. Kebetulan keahlian saya di bidang itu. Saya dan istri jadi juru kampanye Metode Sentra. Kami mengadakan seminar di daerah-daerah. Tasikmalaya adalah daerah binaan yang pertama, sekarang di sana sudah mempraktekan metode ini. Juga kami ke Cimahi, Pekalongan, Sidoarjo. Tapi saya pikir karena seminar terlalu lama kalau untuk kampanye, maka kami membuat majalah TK Media Sentra untuk siapapun di Indonesia.

Apa yang membuat Anda seolah menemukan “sesuatu” di kegiatan Anda sekarang ini?
Setelah 30 tahun saya jadi wartawan, saya lihat masyarakat seperti tidak berubah. Kehidupanya kian parah. Dulu, ketika saya mengikuti training di ESQ, saya seperti membuka penyadaran kembali tentang keislaman. Saya juga melihat sekarang bahwa yang memimpin bangsa negeri ini semuanya produk dari sistem pendidikan yang salah. Pendidikan yang benar-benar harus diperhatikan serius adalah pendidikan dimulai sejak usia dini. Usia 0-8 tahun itu “golden age” yang mementukan akan jadi apa anak ketika besar nanti. Potensi kecerdasan asupannya 50 persen yang dia terima pada usia 0 sampai 2 tahun, 30 persen pada usia 2 sampai 8 tahun. Jadi kapasitas karakter atau kepribadian seseorang ditentukan 80 persen oleh asupan yang diterima pada usia 0 sampai 8 tahun. Sisanya, 20 persen didapatkan setelah dia tumbuh dewasa. Kalau kita bisa menyelamatkan 80 persen itu, insya Allah Indonesia bisa berubah, bisa lahir generasi baru. Inilah kesempatan membangun generasi yang berakhlakul karimah.

Baru usia 55 tahun saya menemukan seperti ini. Mengapa tidak dari dulu? Kehendak Allah memang jalannya seperti ini, pada saat saya berumur 55 tahun. Sampai usia sekarang ini, saya merasa sia-sia karena tidak melakukan hal secara konkret untuk melakukan perubahan. Inilah hijrah saya ke dunia pendidikan. Pendidikan telah memberi pencerahan dan wawasan baru. Hanya pendidikan yang bisa menyelematkan bangsa. Hanya pendidikan sejak usia dini yang bisa melahirkan generasi lebih baik. Jadi, TK Sentra adalah “mainan” baru saya di dunia pendidikan.

Lalu bagaimana dengan biaya kehidupan Anda sehari-hari? Sedangkan Anda sekarang terjun di bidang yang baru?
Ya, masih ada proyek-proyek, misalnya menulis buku biografi, wartawan freelance, juga ada proyek jasa media. Di samping itu, Si sulung sudah bisa hidup dengan biaya sendiri. Dia kan musisi dan sudah mengeluarkan album. Jadi, kebutuhan dia bisa ditangani sendiri. Kami juga masih punya tabungan.

Harapan Anda dengan Metode Sentra di dunia pendidikan kita ?
Sya berharap makin banyak masyarakat Indonesia mengenal metode ini dan menerapkannya, minimal di satu kabupaten ada satu sekolah TK Paud yang menyelenggarakan Metode Sentra dengan lengkap dan benar

Biodata Singkat
Nama Lengkap: Yudhistira Ardi Nugraha Moelyana Massardi
Tempat & Tanggal Lahir: Karanganyar Subang, Jawa Barat, 28 Februari 1954
Istri: Siska Yudhistira Massardi
Pendidikan: Akademi Sinematografi LPKJ (1976)
Karir: Penulis,wartawan (Majalah Le laki, Tempo, Gatra, ESQ, Media Sentra)
Karya : Sajak Sikat Gigi, Kumpulan Puisi (1976), Novel Arjuna Mencari Cinta (1977), dll