Asal Usul Ragam Bahasa Manusia

Posted on Posted in This Friday

Bahasa sebagai salah satu produk budaya anak manusia mempunyai karakteristik yang terbilang unik. Secara logika bahasa manusia seharusnya satu berdasarkan warisan yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka, yaitu Nabi Adam As, istri serta anak-anaknya. Kemudian bahasa yang dikuasai anak keturunan Nabi Adam juga diwariskan kepada anak keturunannya dan seperti itu seterusnya. Akan tetapi anehnya bagaimana mungkin bahasa itu bisa menjadi banyak dan beragam padahal, sekali lagi, asalnya hanya satu, yaitu bahasa Nabi Adam dan keluarganya.

Kalau diperhatikan sejenak, perbedaan bahasa yang ada juga tergolong frontal, karena perbedaan itu tidak hanya terkait dengan perbedaan bunyi, intonasi, dan yang sejenisnya, namun juga terkait substansi dari masing-masing makna bahasa. Sebagai contoh kecil misalnya, bahasa Arab jauh berbeda dengan bahasa Cina. Begitu juga bahasa Cina jauh berbeda dengan bahasa Inggris dan bahasa Inggris berbeda dengan bahasa Indonesia dan seterusnya. Faktor apa yang menyebabkan perbedaan itu bisa muncul.? Benarkan itu sunnatullah yang harus diterima begitu saja tanpa harus diteliti asal usulnya.? Menarik untuk diteliti.
Dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah karya Ibn Katsir ada sebuah riwayat unik yang menjelaskan bahwa sebab pertama munculnya beragam bahasa manusia adalah persebaran manusia pasca banjir bandang yang melanda dunia pada zaman Nabi Nuh As. Berikut kutipannya :

وروى غلباء بن أحمر عن عكرمة عن ابن عباس قال كان مع نوح في السفينة ثمانون رجلا معهم أهلوهم وإنهم كانوا في السفينة مائة وخمسين يوما وإن الله وجه السفينة إلى مكة فدارت بالبيت أربعين يوما ثم وجهها إلى الجودى فاستقرت عليه فبعث نوح عليه السلام الغراب ليأتيه بخبر الأرض فذهب فوقع عليالجيف فأبطأ عليه فبعث الحمامة فأتته بورق الزيتون ولطخت رجليها بالطين فعرف نوح أن الماء قد نضب فهبط إلى أسفل الجودى فابتنى قرية وسماها ثمانين فأصحبوا ذات يوم وقد تبلبلت السنتهم على ثمانين لغة إحداها العربي وكان بعضهم لا يفقه كلام بعض فكان نوح عليه السلام يعبر عنه.

Artinya : Diriwayatkan oleh Ghulaba’ ibn Ahmar, dari Ikrimah, dari Ibn Abbas, ia berkata : Bersama Nabi Nuh As ada sekitar 80 orang laki-laki. Mereka membawa keluarga mereka dan menetap di atas kapal selama kurang lebih 150 hari. Lalu Allah mengarahkan kapal itu ke Kota Mekah dan berputar di sekeliling Kakbah selama 40 hari. Kemudian Allah mengarahkannya ke Bukit Judi dan menetap di sana (beberapa saat). Lalu Nabi Nuh As mengutus seekor burung gagak untuk mencari berita terkait perkembangan daratan, lalu ia pergi namun lama tidak kembali juga. Kemudian Nabi Nuh kembali mengutus burung merpati, lalu setelah beberapa saat burung tersebut membawakan kepadanya berupa daun pohon zaitun dengan kondisi kedua kakinya berlumuran tanah. Berdasarkah hal itu, Nabi Nuh mengetahui kalau banjir sudah surut, lalu beliau turun ke bawah bukit Judi sembari membangun sebuah kampung yang diberi nama dengan “tsamanin”. Pada suatu hari, tiba-tiba saja bahasa mereka menjadi bercambur-baur menjadi 80 bahasa. Satu di antaranya adalah bahasa Arab. Bahkan sebagian mereka tidak memahami bahasa temannya yang lain, sehingga Nabi Nuh turun langsung menerjemahkan percakapan mereka.

Selain itu, Imam Qatadah memberikan informasi yang lebih detail terkait waktu dan tanggal terjadinya peristiwa tersebut. Ia menyebutkan bahwa Nabi Nuh As menaiki kapal bersama kaumnya pada tanggal 10 Rajab, kemudian berlayar selama 150 hari, lalu menetap di atas bukit Judi selama sebulan, dan baru akhirnya turun dari kapal pada tanggal 10 Muharram. Dan bahkan berdasarkan riwayat ini, 10 Muharram seringkali dijadikan sebagai hari bersejarah oleh umat Islam dan disunahkan untuk berpuasa sunat pada tanggal tersebut. Imam Ahmad pernah menyebutkan sebagai berikut :

حدثنا أبو جعفر حدثنا عبد الصمد بن حبيب الأزدي عن أبيه حبيب بن عبد الله عن شبل عن أبي هريرة قال مر النبي صلى الله عليه وسلم بأناس من اليهود وقد صاموا يوم عاشوراء فقال ما هذا الصوم فقالوا هذا اليوم الذي نجا الله موسى وبني إسرائيل من الغرق وغرق فيه فرعون وهذا يوم استوت فيه السفينة على الجودى فصام نوح وموسى عليهما السلام شكرا لله عز و جل فقال النبي صلى الله عليه و سلم أنا أحق بموسى وأحق بصوم هذا اليوم.

Artinya : Telah bercerita kepada kami Abu Ja’far, telah bercerita kepada kami Abd al-Shamad ibn Habib al-Azdi, dari bapaknya, Habib ibn Abdillah, dari Syibl, dari Abi Hurairah, ia berkata : Suatu hari Rasulullah Saw lewat di depan sekelompok orang dari kaum Yahudi. Mereka pada saat itu tengah berpuasa Asyura. Lantas Rasul bertanya kepada mereka, “Puasa apakah ini?”, lalu mereka menjawab : “Hari ini Allah telah membebaskan Nabi Musa dan kaum Bani Israil dari ketenggelaman dan menenggelamkan Fir’aun. Pada hari ini juga kapal Nabi Nuh As bisa berlabuh di atas Bukit Judi, lalu Nabi Nuh dan Musa As pun berpuasa pada hari ini sebagai wujud rasa syukur keduanya kepada Allah Swt. Lalu Nabi Saw bersabda, “Saya lebih berhak (untuk berpuasa pada hari ini) ketimbang Nabi Musa”.

Setelah mengutip riwayat di atas, Imam Ibn Katsir menyatakan bahwa riwayat Ahmad tersebut mempunyai pendukung dari jalur lain yang berkualitas sahih. Sehingga meskipun riwayat ini bermasalah, namun keberadaan riwayat pendukung yang sahih tersebut dapat mengangkat kualitasnya dan membuatnya bisa untuk dijadikan sebagai hujjah dalam beramal. Akan tetapi terkait kebenaran riwayat 80 bahasa yang muncul pasca surutnya banjir pada masa Nabi Nuh di atas, penulis belum bisa menentukan validitasnya secara pasti. Karena Imam Ibn Katsir sendiri hanya mengutipnya tanpa disertai dengan komentar terkait kualitasnya.

Akan tetapi jika kita menggunakan pisau analisis kritik matan untuk menggali kebenaran berita tersebut, maka bisa saja secara matan hadis tersebut bermasalah karena mengandung informasi yang cenderung irrasional. Bagaimana mungkin 80 orang yang awalnya mempunyai bahasa yang sama, tiba-tiba tidak saling paham antar satu sama lain serta memiliki bahasa masing-masing. Meskipun demikian, tidak ada salahnya riwayat tersebut untuk sekedar dibaca dan dijadikan sebagai pengetahuan semata-mata dengan tidak meyakini bahwa ia bersumber dari Nabi Muhammad Saw. Cukuplah ayat al-Qur’an dalam Surah al-Ruum ayat ke-22 menjadi bukti kuat bahwa bahasa adalah bagian dari sunnatullah yang sulit untuk dirasionalkan asal muasalnya. Semoga bermanfaat.[Yunal Isra]