Berlindung pada Tuhan Segala yang Terbelah

Posted on Posted in This Friday

Allah swt. memang sebaik-baik tempat berlindung. Banyak doa-doa yang berisi permohonan akan perlindungan dari-Nya. Dua surah dalam Al-Qur’an berikut ini termasuk di antaranya. Kedua surat ini dinamai juga al-Mu’awwidzatain, yaitu surah yang menuntun pembacanya ke dalam perlindungan. Kali ini kita akan membahas salah satu di antaranya yakni surah Al-Falaq. Sementara surah yang satunya, An-Naas, akan kita bahas di lain waktu.

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan segala yang terbelah. Dari kejahatan yang diciptakan. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan peniup-peniup pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. (QS. Al-Falaq: 1-5).

Sebagian ulama mengartikan al-falaq dengan pagi atau waktu subuh. Namun sebagian lagi mengartikannya secara lebih luas, berdasarkan akar katanya falaqa yang artinya membelah, yaitu segala sesuatu yang terbelah termasuk pagi yang membelah kegelapan malam.

Berkaitan dengan pendapat pertama, gelapnya malam diumpamakan juga sebagai kejahatan atau tempat terjadinya berbagai keburukan. Maka seperti Allah swt. membelah malam dengan cahaya pagi, seperti itu pula Dia berkuasa menyingkirkan segala kesulitan dan kejahatan dan menggantinya dengan kemudahan dan perlindungan. Sedangkan secara lebih luas, Allah tidak hanya menguasai pagi melainkan segala yang tebelah. Misalnya, tanah yang terbelah oleh tumbuhan dan mata air.

Kepada penguasa segala yang terbelah itulah kita memohon perlindungan, dari kejahatan, baik yang menimpa kita atas perbuatan diri sendiri maupun perbuatan makhluk lain. Baik yang telah terjadi seperti bencana atau penyakit, maupun yang berpotensi membawa keburukan seperti perbuatan maksiat dan kekufuran.

Selanjutnya dalam surat tersebut kita juga berlindung kepada Allah dari kejahatan yang banyak terjadi pada malam yang gelap, baik berupa pencuri, perampok, keberadaaan hewan berbisa, maupun bahaya lain yang mungkin tidak terlihat karena ketiadaan cahaya.

Kemudian dari peniup pada buhul (ikatan), yang diartikan sebagian ulama sebagai wanita tukang sihir yang merusak berbagai hal dengan meniupkan jampi pada buhul (ikatan) yang terbuat dari tali. Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ini juga mencakup kejahatan manusia yang suka menghasut dan menyebarkan berita bohong untuk memutuskan hubungan baik orang lain.

Kejahatan yang terakhir dikhususkan pada yang bersumber dari pendengki apabila kedengkiannya itu telah diwujudkan dalam perkataan maupun perbuatan yang membahayakan atau mencelakakan orang lain.

Penjabaran kejahatan dalam tiga ayat terakhir, yang sebenarnya telah tercakup dalam ayat kedua, menunjukkan tingkat bahaya dan seringnya kejahatan-kejahatan semacam itu terjadi.

Hanya Allah swt. yang dapat melindungi kita dari semua kejahatan tersebut , yang seringkali sifatnya tersembunyi, tidak terduga, dan berada di luar kemampuan manusia. Maka dengan membiasakan pembacaan surah ini dalam keseharian kita, semoga kita senantiasa berada dalam lindungan dan pertolongan-Nya. [teks: aca; referensi: Tafsir Al-Mishbah oleh M. Quraish Shihab]