Bijaksana dalam Berinteraksi

Posted on Posted in This Friday

Terkadang, kita begitu mudah tersinggung dengan perkataan orang lain. Satu kalimat saja yang tidak berkenan di hati kita, bisa memicu pertengkaran dan permusuhan yang berkepanjangan.

“Jangan pernah memahami kalimat buruk benar-benar buruk, selama masih ada peluang memahaminya baik dan jangan menertawakan orang lain, karena kita tak tahu apa yang disembunyikan hari mendatang.” Demikian M. Quraish Shihab pernah berkata.

Kemarahan kita akan ucapan orang lain seringkali menghambat kita untuk dapat berpikir dengan jernih. Padahal, kalau kita mau mencernanya dengan lebih perlahan, mau melihat dari sudut pandangnya, mau melihat apa yang berada di balik kata-kata, bisa jadi ada kebenaran dalam perkataannya.

Bahkan boleh jadi, dua perkataan yang terlihat bertentangan, sesungguhnya memiliki kesamaan maksud dan tujuan, hanya saja menggunakan kemasan dan cara penyampaian yang berlainan.

Penggunaan bahasa tulisan untuk berkomunikasi, seperti yang sering digunakan saat ini, misalnya melalui media sosial, memiliki celah yang lebih besar bagi timbulnya kesalahpahaman semacam ini.

Selain tidak bisa mendengar intonasi suara, kita juga luput melihat mimik wajah, bahasa tubuh, kondisi pembicara, bahkan tak jarang juga identitas pembicara itu sendiri.

Media sosial, yang terbuka untuk siapa saja, memungkinkan untuk orang-orang yang asing di dunia nyata untuk saling berinteraksi di dunia maya. Sehingga, kita tidak selalu benar-benar mengenal orang yang kita ajak bicara.

Untuk itu, diperlukan kebijaksanaan dari kita untuk memilah dan memilih, mana yang perlu ditanggapi serta bagaimana menanggapinya. Prasangka baik dan pengendalian emosi perlu selalu dikedepankan.

Saat hendak mengungkapkan pendapat atau menanggapi suatu persoalan, sabda Rasulullah saw. dalam Hadis Riwayat Bukhari berikut perlu kita tanamkan dalam hati: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam.”

Simak dengan baik maksud ucapan orang lain melalui tulisan. Hindari kata-kata kasar dalam setiap keadaan, jauhi ejekan dan hinaan dalam berbagai bentuknya. Tetap jaga kesopanan dan ketenangan dalam bertukar pikiran. Tinggalkan percakapan yang hanya bertujuan untuk berdebat dan menciptakan kebencian. Tidak perlu memaksa semua orang untuk setuju dengan pendapat kita, tidak perlu marah bila ada yang tidak sepaham.

Tugas kita hanya mengingatkan. Itupun dengan penuh kesabaran dan kelembutan. Jangan sampai kata-kata kita menimbulkan perpecahan. Jangan biarkan prasangka buruk dan kemarahan menjauhkan kita dari kebenaran dan keadilan.

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda: “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari isu, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci, tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim). [aca]