Kejahatan yang Lebih Berbahaya dari Kegelapan Malam

Posted on Posted in This Friday

Setelah sebelumnya kita membahas Al-Qur’an surah Al-Falaq, pada kesempatan kali ini kita akan membahas satu surat lagi yang termasuk dalam al-Mu’awwidzatain (surah yang menuntun pembacanya ke dalam perlindungan), yaitu surah An-Naas.

Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS. An-Naas: 1-6).

Kata Rabb (Tuhan) yang digunakan pada ayat pertama mengandung pengertian kepemilikan, kepemeliharaan, serta pendidikan, yang melahirkan pembelaan dan limpahan kasih sayang. Sehingga sangatlah wajar bila manusia memohon perlindungan dan bimbingan-Nya.

Selanjutnya, manusia diingatkan betapa Allah swt. Maha Raja penguasa yang mengurus manusia, satu-satunya yang pantas disembah dan dipatuhi. Hal ini menegaskan bahwa Allah swt. berkuasa untuk mengagalkan niat jahat siapapun. Dia juga merupakan tempat manusia mengabdi dan menujukan segala permohonan.

Pada surah An-Naas ini, perlindungan yang dimohonkan berfokus pada bisikan berupa godaan atau ajakan negatif yang dapat hadir sewaktu-waktu, terutama saat kita sedang lengah dalam mengingat-Nya.

Siapapun yang menjadi sumber bisikan negatif ini, yang senantiasa mengajak pada kemaksiatan, dinamakan setan, baik dari jenis manusia maupun jin, termasuk godaan nafsu manusia itu sendiri.

Jika dalam surah Al-Falaq disebutkan satu sifat Allah (Tuhan segala yang terbelah) untuk memohon perlindungan dari tiga jenis kejahatan, maka dalam surah An-Naas disebutkan tiga sifat Allah untuk berlindung dari satu jenis kejahatan.

Hal tersebut menurut sementara ulama menunjukkan bahwa kejahatan dari dalam diri manusia, baik berasal dari bisikan setan maupun hawa nafsunya, lebih berbahaya dari pada kejahatan di luar dirinya, maka lebih banyak pula sifat dan kuasa Allah disebutkan.

Selain mengendalikan godaan hawa nafsu dengan tidak memperturutkannya, kita juga harus banyak mengingat-Nya agar tertolak segala bisikan setan. Salah satunya dengan membaca surah ini dengan sepenuh penghayatan. Semoga perlindungan dan hidayah-Nya senantiasa mengiringi langkah-langkah kita. [teks: aca; referensi: Tafsir Al-Mishbah oleh M. Quraish Shihab]