Merdeka Belajar: Sirah Nabi Muhammad SAW, Teladan Hati dan Aksi

Posted on Posted in This Friday

Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW., adalah saat tepat untuk belajar (lagi) Sirah Nabi.  Belajar sejarah dalam pendidikan Islam seringkali jadi strategi utama guru dan orangtua mengenalkan nilai Qur’ani dan semangat Islami. Anak secara alamiah tertarik dengan cerita. Tetapi, sukses atau tidaknya guru dan orangtua mengajarkan sejarah, tidak tergantung seberapa banyak yang anak ingat dan ceritakan kembali. Di Living Qur’an, saya belajar, ada pendekatan yang lebih efektif untuk jangka panjang. Karena tujuan interaksi kita adalah menumbuhkan rasa cinta sebagai bekal penting mengenal Rasulullah SAW. yang luar biasa, juga bekal  terus belajar dari sejarah Islam yang kaya. 

Kita harus berhati-hati untuk tidak menyamakan belajar sejarah Nabi SAW. sebatas mempelajari masa lalu dan faktanya. Belajar sejarah apapun,  sejatinya adalah belajar tentang interpretasi sejarawan tentang fragmen/fokus tertentu dari suatu peristiwa di masa lalu. Kita perlu mencoba mengenalkan sejarah Rasulullah SAW. menjadi bagian dari masa kini. Karena kita ingin anak terus belajar mengenai Nabi SAW. bukan saja saat mendengar cerita di usia dini seperti yang banyak kita alami. Bila kita ingin melihat anak menjadi “sejarawan mandiri”, ia perlu memahami dan menginterpretasi peristiwa di kehidupan Nabi SAW. dengan yang dialami dan diamatinya saat ini. Belajar sirah Nabi SAW bukan sekedar menceritakan ulang informasi.  

Biasakan menggunakan berbagai sumber yang terpercaya, mengajak anak bedakan informasi ilmiah dan berdasar kitab suci dengan kabar burung dan kisah yang tidak menempatkan Nabi SAW. sesuai kemanusiaan dan kemuliaannya.

Keengganan dan kebosanan anak pada sejarah Islam sering bermula karena fokus kita yang berlebihan pada tanggal, nama dan tempat. Keingintahuan utama anak justru pada alur peristiwa. Latar belakang, yang terjadi sebelum dan sesudahnya di tempat yang sama, juga hubungan dan dinamika antar peran dan aktor sejarah. Belajar tentang Futuh Makkah misalnya, tentu bisa menjadi kesempatan emas belajar  tentang kenapa penduduk Makkah berduyun-duyun dengan kesadaran masuk Islam. Tetapi yang jarang diceritakan, Nabi Muhammad SAW. juga menunjukkan keteladanan sikap kepada orang tua di peristiwa ini. Beliau dengan luar biasa menunjukkan hormat kepada Abu Qahafah, ayahanda Sayyidina Abubakar RA. yang hendak masuk Islam. Dengan pendekatan ini, anak terbiasa memahami berbagai sudut pandang peristiwa. Anak juga belajar bahwa “fakta” dan “bukti” sejarah adalah dua hal yang berbeda. Anak paham bahwa fakta tidak selalu bebas salah, bahwa bukti sejarah yang kita baca adalah hasil proses memilih dan terkadang ada yang “terlewati”.

Salah kaprah lain yang masih sering kita praktikkan adalah menjelaskan sejarah dalam vakum dan satu garis waktu. Kita perlu mengajak anak melihat bahwa dalam satu periode waktu terjadi banyak peristiwa paralel di tempat yang lain, yang saling mempengaruhi dan bisa membantu kita memahami sejarah dengan utuh. Peristiwa Futuh Makkah tadi misalnya, jarang dipelajari anak dalam konteks apa yang terjadi di Madinah. Kemenangan di Makkah, sempat membuat kaum Anshor di Madinah cemas. Namun Rasulullah SAW. menenangkan kaum Anshor dan setelah berada di Makkah selama 19 hari (ada pula yg meriwayatkan 15 dan 17 hari), beliau pun kembali ke Madinah. Bila kita memandang sejarah sebagai proses dialog, cerita yang berhubungan dan diinterpretasi oleh anak, guru serta orangtua, maka Insya Allah topik apapun akan menarik untuk usia berapapun. 

Kata kunci utamanya adalah proses belajar barengan. Sebagai orangtua dan guru, saya seringkali perlu belajar kembali, sebelum mulai mengajarkan sirah Nabi Muhammad SAW. kepada anak-anak. Bukan sekedar riset, tapi juga refleksi. Semoga kita selalu mendapat kesempatan menggali inspirasi dari kehidupan beliau. Shalawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW. 

#SemuaMuridSemuaGuru
[Najelaa Shihab – Dewan Kurikulum Living Qur’an]