Salat Ganjil yang Diutamakan

Posted on Posted in This Friday

Jika mendengar nama salat witir kita cenderung mengaitkannya dengan bulan Ramadan. Ya, salat witir memang kerap dilakukan setelah salat tarawih. Padahal, di luar bulan Ramadan pun salat sunah yang satu ini termasuk salat yang utama dilakukan. Rasulullah saw. pun rutin melakukannya.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Kekasihku (yaitu Rasulullah saw.) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: 1-berpuasa tiga hari setiap bulannya, 2- mengerjakan salat dhuha, 3-mengerjakan salat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari).

Sesuai dengan namanya, rakaat salat witir jumlahnya ganjil, dimulai dari satu sampai sebelas atau tiga belas rakaat. Dengan melakukannya kita melakukan apa yang Allah cintai.

Sesungguhnya Allah itu Witr dan menyukai yang witr (ganjil).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Salat witir dapat dilakukan sejak waktu  Isya hingga sebelum masuk waktu Subuh.

Rasulullah saw. Bersabda :

Siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia witir dan baru kemudian tidur. Dan siapa yang yakin akan terbangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena bacaan di akhir malam dihadiri (oleh para Malaikat) dan hal itu adalah lebih utama.” (HR. Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, ” Kapankah kamu melaksanakan witir?” Abu Bakr menjawab, “Saya melakukan witir di permulaan malam”. Dan beliau bertanya kepada Umar, “Kapankah kamu melaksanakan witir?” Umar menjawab, “Saya melakukan witir pada akhir malam”. Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar, “Orang ini melakukan dengan penuh hati-hati.” Dan kepada Umar beliau mengatakan, “Sedangkan orang ini begitu kuat.” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

TF Salat Ganjil yang Diutamakan 180416

Bagi yang terbiasa melakukan salat tahajud, tentu salat witir dapat menjadi penutup yang tepat, karena memang waktu terbaik untuk melakukan keduanya adalah di akhir malam. Namun, bagi yang belum sanggup untuk merutinkan tahajud, salat witir sebelum tidur merupakan pilihan yang baik. Dengan demikian, kita tetap bisa melakukan salah satu salat sunah yang utama tanpa khawatir tidak sanggup bangun di tengah malam.

Ada perbedaan yang kadang menjadi perselisihan mengenai pembagian rakaat dalam pelaksanaan salat witir. Sebagian mengatakan bahwa salat witir dilakukan dengan sekali salam, sebagian lain mengatakan bahwa salat witir dikerjakan dengan memisahkan rakaat genap dan ganjil. Jadi lima rakaat salat witir misalnya dibagi menjadi salam setiap dua rakaat lalu ditutup dengan satu rakaat terakhir.

Menurut M. Quraish Shihab keduanya boleh saja dilakukan. Mazhab Syafi ‘i melakukan pemisahan, sedangkan Mazhab Abu Hanifah melakukannya dengan sekali salam. Hadis yang ada pun menerangkan bahwa Rasulullah saw. pernah melakukan keduanya, ini menunjukkan bahwa tidak ada yang salah dari kedua cara tersebut. Karenanya, perbedaan semacam ini tidak seharusnya menimbulkan perselisihan.

Dari ‘Aisyah, ia berkata : Rasulullah saw. biasa berwitir tiga raka’at sekaligus, beliau tidak duduk (tasyahud) kecuali pada rakaat terakhir.” (HR. Al Baihaqi).

Dari ‘Aisyah, ia berkata : Rasulullah saw. shalat di dalam kamar ketika saya berada di rumah dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memisah antara raka’at yang genap dengan yang witir (ganjil) dengan salam yang beliau saw.  perdengarkan kepada kami.” (HR. Ahmad).

Ibadah sunah, salah satunya salat witir, merupakan kesempatan kita untuk memperoleh nilai tambah di hadapan-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, meraih ridha dan cinta-Nya, sehingga menambah keberkahan dalam hidup kita di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat kelak. Insya Allah.

Dari Abu Bashrah al-Ghifari ra., dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:Sesungguhnya Allah swt. telah memberi kalian tambahan salat, yaitu salat witir, maka salat witirlah kalian antara waktu shalat ‘Isya’ hingga shalat Shubuh. (HR. Ahmad). [aca]