Jalan Menuju Keabadian

Posted on Posted in Thought

Kematian, adalah keniscayaan. Tak satu jiwa pun mampu menghindarinya. Nyaris semua orang merasa sangat berat meninggalkan hidup ini. Semua berkata dalam hatinya seperti ucap Khairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Al-Qur’an pun menggunakan kalimat serupa: “Setiap seorang di antara mereka menginginkan seandainya dia diberi umur seribu tahun….” [QS al-Baqarah [2]: 96]. Keinginan untuk kekal itu digunakan Iblis menipu Adam dan pasangannya sehingga mereka berdua memakan ‘buah’ pohon khuld/pohon kekekalan [QS Thâhâ [20]: 103].

Keinginan hidup kekal antara lain disebabkan karena umur manusia tak sepanjang harapan dan citanya. Maut menjadi bahasan agama dan filsafat, bahkan sementara filsuf menegaskan bahwa maut adalah asal usul semua agama. Para filsuf memiliki dua pandangan yang bertolak belakang tentang hidup. Ada yang pesimis, memandang hidup sebagai sesuatu yang berat, penuh kesulitan lalu berakhir dengan maut yang berarti kepunahan. Ada juga yang optimis menilai hidup sebagai kehormatan dan tanggungjawab yang dapat berakhir dengan kebahagian dan kekekalan yang baru diperoleh melalui maut.

Sebagian yang pesimis, menganut faham mumpung: “Selama Anda masih hidup, maka lakukan apa saja yang menyenangkan hati sekaligus mewujudkan eksistensi Anda. Jangan hiraukan apa pun, karena pada akhirnya, suka atau tak suka, Anda pasti berakhir.”

Yang optimis menilai kematian bukan akhir wujud manusia. Keberadaan kuburan dan menziarahinya yang dilakukan oleh manusia primitif hingga manusia modern, membuktikan bahwa manusia enggan mengganggap kematian sebagai kepunahan. Yang meninggal dunia, hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka merasa masih dapat berhubungan bukan saja melalui doa tetapi juga tak sedikit yang menyampaikan keluhan dan harapan kepada yang telah berpulang itu. Bahkan ada yang membuat patung-patung bagi yang telah berpulang untuk mereka sembah.

Yang optimis menilai bahwa perjalanan manusia mencapai kesempurnaannya haruslah melalui pintu kematian, tak ubahnya seperti ayam. Unggas ini tak dapat meraih kesempurnaanya kecuali dengan meninggalkan kulit telur yang menjadi tempatnya sebelum menetas. Bumi tempat manusia hidup adalah “kulit telur” manusia. Kematian adalah tangga menuju keabadian, hidup yang tanpa mati.

Al-Qur’an –paling tidak menggunakan empat kata untuk menggambarkan kematian. 1] Maut, yang mengisyaratkan berpisahnya ruh dari badan. Ruhnya sebenarnya tetap ada, dia hanya meninggalkan badan ke tempat lain. Pemisahan itu menjadikan badan tidak berdaya dan akhirnya punah ‘dimakan’ tanah. 2] Ajal/batas akhir sesuatu. Siapa yang meninggal dunia maka telah sampai ke batas akhir dari keberadaannya di dunia, sekali lagi, di dunia. Tetapi “aku”-nya tetap ada dan beralih bersama ruh ke alam lain. 3] Wafat/sempurna. Yang meninggal dunia telah sempurna keberadaannya di pentas bumi. Karena itu yang wafat usianya tak dapat ditambah lagi karena ia telah sempurna. Ini juga mengajarkan bahwa jangan pernah menduga yang meninggal dengan kecelakaan atau terbunuh, wafat sebelum waktunya atau bahwa seandainya itu tak terjadi maka yang bersangkutan masih dapat berada di pentas bumi. 4] Rujû’/kembali. Dari akar kata ini kalimat yang diajarkan untuk diucapkan ketika mendengar berita kematian, “Sungguh kami milik Allah dan sungguh kami hanya kepada-Nya akan kembali.”

Kata ini mengingatkan tentang kembalinya yang meninggal ke asalnya. Salah satu kesan yang hendak digambarkan oleh kata ini, bahwa kembali tersebut diharapkan menyenangkan. Bukankah kembali/mudik ke kampung halaman bertemu dengan sanak keluarga merupakan salah satu kenikmatan ruhani yang sangat dalam? Bukankah untuk ‘mudik’ seseorang bersedia berletih-letih, bahkan mengeluarkan biaya untuk mendapatkan kenikmatan itu?

Al-hasil, ketika berbicara tentang maut, agama Islam berupaya mempertebal optimisme penganutnya sekaligus mengurangi rasa cemas dan takutnya. Memang, maut –-betapa pun banyak riwayat yang menyatakan kepedihan sakarat-nya– tetapi ia “ringan” jika hanya itu yang dihadapi. Keyakinan agama menekankan bahwa bukan hanya itu, tetapi ada perhitungan, ada surga dan ada neraka. Itulah yang jauh lebih menguatirkan ketimbang maut. Dan karena itulah perlu persiapan yang serius menghadapi apa yang sesudah kematian itu. Demikian. Wa Allah A’lam. « [M. Quraish Shihab – Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an]