Menghormati Orang yang Tidak Puasa

Posted on Posted in Thought

Judul di atas, boleh jadi terdengar atau terasa aneh dibacanya. Karena, yang sering kita dengar selama ini hampir selalu dan selamanya justru menghormati orang-orang yang puasa. Maksudnya, orang-orang yang tidak puasa diminta –-untuk tidak menyatakan dituntut-– supaya menghormati orang-orang yang tengah berpuasa. Manakala orang yang tidak puasa diminta menghormati orang-orang puasa [sha’imin dan sha’imat], maka sungguhlah adil manakala orang-orang yang puasa juga dimohon perlakuan yang sama [sebanding] yakni menghormati orang-orang yang tidak puasa. Alasannya? Dapat difahami dari ayat-ayat tentang puasa. Paling sedikit dari ayat 183 surat al-Baqarah yang terjemahannya sebagai berikut: “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana [puasa itu juga] diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” [QS al-Baqarah [2]: 183].

Pertama, puasa Ramadhan hanya diwajibkan atas orang-orang beriman [Mukmin]. Artinya, orang-orang yang tidak beriman, atau tepatnya orang-orang kafir menurut istilah al-Qur’an, tidaklah dibebani kewajiban puasa Ramadhan. Imbauan kata “hai orang-orang beriman, [ya-ayyuhal-ladzîna âmanu]” yang terdapat di bagian awal ayat ini, mengisyaratkan hal itu. Jika puasa itu hanya diwajibkan kepada orang-orang beriman, maka orang-orang yang tidak beriman, tidak diwajibkan berpuasa. Nah, kebebasan mereka [orang-orang tidak beriman] untuk tidak puasa, inilah yang harus dihormati oleh orang-orang yang berpuasa.

Kedua, dari sudut pandang hukum syariah, segenap dan setiap ummatan Muslimatan terutama para ulamanya telah sepakat untuk menyimpulkan, bahwa hukum puasa Ramadhan adalah wajib. Kata-kata “kutiba ‘alaikum al-shiyam”, menunjukkan hal itu. Semua ulama Islam telah sepakat bahwa melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib, atau tepatnya menjadi kewajiban setiap individu [fardhu ‘ain] bagi setiap dan semua insan beriman yang telah akil baligh. Lagi-lagi, kewajiban puasa ini terbatas atau malahan dibatasi hanya untuk orang-orang Mukmin yang telah mukallaf alias akil baligh. Maknanya, orang-orang non-Mukmin, atau orang Mukmin yang belum akil baligh, tidak dibebani kewajiban melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Atas dasar ini, maka orang yang tidak berpuasa dalam hal ini orang-orang non-Mukmin, dapat dikatakan sama dengan anak kecil yang belum akil baligh dalam hal tidak dibebani kewajiban puasa. Di sini, mereka memiliki hak untuk dihormati ketidakpuasaannya, dalam arti tidak boleh dipaksa-paksa supaya berpuasa.

Ketiga, dari sudut pandang sejarah, pensyariatan ibadah puasa Ramadhan, itu telah memakan waktu yang cukup lama. Kalimat “kamâ kutiba ‘alaikum –-sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu” mengisyaratkan hal itu. Logikanya, sha’imin dan sha’imat dalam usia Ramadhan yang ke sekian, seyogyanya jauh lebih dewasa dan lebih berkualitas. Di antara indikatornya, menghormati orang-orang yang tidak puasa karena mereka tidak beriman atau karena alasan-alasan lain yang dibenarkan agama. Di sinilah terletak arti penting dari penghormatan kepada mereka yang tidak puasa.

Keempat, dari sudut pandang sasaran, target puasa ialah agar para pelakunya [sha’imin dan sha’imat] menjadi orang-orang yang bertakwa. Ungkapan “la’allakum tattaqûn” pada penghujung ayat di atas, mengisyaratkan hal itu. Di antara ciri orang bertakwa tentu saja melakukan apa yang diperintahkan Allah swt, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Menghormati sesama umat manusia, apapun faham agamanya, merupakan perbuatan yang diperintahkan agama Islam, dan sekaligus merupakan salah satu dari beberapa ciri orang-orang muttaqin. « [Muhammad Amin Suma – Guru Besar Hukum Islam dan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta; Dewan Penasihat Dompet Dhuafa]