Wisata

Posted on Posted in Thought

Kata “Alam” seakar dengan kata alamat, yakni tanda untuk menujuk arah. Alam raya, demikian juga penggalan–penggalan al-Qur’an dinamai ayat yang secara harfiah berarti tanda, karena melalui keduanya ditemukan tanda-tanda keesaan dan kuasa-Nya sekaligus tanda/marka jalan menuju arah yang seharusnya dituju yakni Allah swt. Bukankah kita semua akan kembali kepada-Nya?

Al-Qur’an sangat indah, alam raya pun demikian, begitu indahnya, sampai-sampai ada manusia yang terpukau dan terpaku padanya dan lupa bahwa ia adalah marka jalan bukan tujuan akhir perjalanan.

Ayat/marka jalan itu tak dapat berfungsi dengan baik, kecuali bila dipandang dengan mata kepala dan mata hati. Dari sini –-dalam konteks memfungsikannya– ditemukan sekian banyak perintah. Khusus menyangkut pandangan, ditemukan tak kurang dari tujuh ayat yang mengaitkan langsung perintah memandang itu dengan perjalanan. “Berjalanlah di bumi dan lihatlah…”. Bahkan wisatawan dipuji-Nya berbarengan dengan pujian-Nya terhadap orang-orang yang bertaubat, beribadah, memuji Allah, ruku’ dan sujud, dll. [baca QS. at Taubah [9]: 112].

Dengan demikian, tidak keliru jika ditegaskan bahwa agama menganjurkan setiap orang untuk menyisihkan sebagian masa hidupnya, tenaga, fikiran, dan uangnya untuk berwisata. “Berwisatalah –-Anda akan menemukan ganti dari apa yang Anda tinggalkan”. Bukan saja hati –-yang memang memerlukan hiburan yang akan terpuaskan– tetapi juga kalbu dapat lebih jernih, wawasan dapat lebih luas, dan pelajaran dari fenomena alam dan sejarah dapat terjangkau. Walhasil perjalanan wisata dapat berdampak sangat besar bagi kehidupan seseorang.

Nabi Isa as., dinamai al-Masih yang antara lain bermakna “yang berwisata” karena beliau sangat gemar berwisata, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari taman ke taman berikutnya, untuk menjernihkan hati serta menarik dan memberi pelajaran. Beliau adalah salah seorang nabi yang hendaknya diteladani [QS. al-An’âm [6]: 90].

Jangan menduga bahwa anjuran berwisata hanya kepada pria. Tidak! Wanita pun terpuji jika melalukannya, karena alam raya dibentang bukan hanya untuk lelaki. Atau perempuan hanya diciptakan untuk dikurung di dalam rumah. Al-Qur’an memuji perempuan yang berwisata. Bahkan salah satu ciri wanita yang wajar dipersunting Rasul adalah perempuan yang senang berwisata [baca QS. at-Tahrim [66]: 5].

Perlu digarisbawahi sekali lagi bahwa tujuan wisata adalah menambah wawasan, menjernihkan hati, memperhalus budi, dalam rangka menyukseskan perjalanan menuju Tuhan. Karena itulah misalnya salah satu ayat yang memerintahkan berwisata menyatakan: “Apakah mereka tidak berjalan di persada bumi lalu menyaksikan yakni apa yang terhampar dan yang pernah terjadi di sana? Dengan melihat dan memikirkannya mereka bisa memunyai hati suci dan akal sehat yang mengantar mereka memahami apa yang mereka lihat atau kalau pun mata kepala mereka buta, telinga mereka dapat mendengar. Dengan demikian, mereka dapat merenung dan menarik pelajaran, kendati mata kepala mereka buta. Karena sesungguhnya -–tutup ayat ini– bukan mata kepala yang buta tetapi yang buta adalah mata hati yang berada di dalam dada.” [QS. al-Hajj [22]: 46].

Sedemikian besar dorongan agama untuk berwisata sampai-sampai semua perjalanan yang tidak bertujuan dosa dibenarkannya, bahkan kewajiban kepada Allah dilonggarkan-Nya; puasa dapat ditangguhkan, shalat Zhuhur dan Ashar dapat digabung, juga Maghrib dengan Isya’, bahkan yang empat rakaat dapat dipersingkat. Karena itu, jangan tidak berwisata, dan jangan juga meninggalkan shalat dengan alasan berwisata, karena kemudahan telah diberikan Tuhan kepada Anda. Demikian. Wa Allah A’lam. « [M. Quraish Shihab – Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an]