AS-SAYIDAH NAFISAH, Cucu Rasulullah yang Kharismatik

Posted on Posted in Tokoh

Nafisah dikenal dengan gelar “nafīsatu l-‘ilm” (permata termahal di bidang ilmu pengetahuan). Nama lengkapnya Nafīsah binti al-Hasan ibnu Zaid ibnu al-Hasan ibnu ‘Aliy ra. Dia ini tidak hanya populer dan berpengaruh semasa hidupnya di tengah masyarakat dan dengan banyaknya murid yang mendatangi, hingga sekarang pun pengaruhnya masih besar, terutama di Mesir.

Di antara muridnya ialah Muhammad ibn Idris yang kelak dikenal dengan Imam Syafi’i. Sayidah Nafisah dipercaya oleh banyak orang sebagai orang yang sangat mustajab doanya. Makamnya, di dalam komplek mesjid yang membawa namanya, sampai kini selalu ramai dikunjungi karena dipercaya sebagai tempat menyampaikan permohonan yang cepat dikabulkan Tuhan. Masjid jami Sayidah Nafisah sangat terkenal di Cairo, Mesir.

Nafisah lahir di Makkah pada tanggal 11 Rabiul Awal 145 H. Nafisah berada di Makkah sampai usia lima tahun lalu dibawa ayah dan ibunya (Zainab bintu al-Hasan) ke Madinah. Pada masa pemerintahan al-Manshur, ayahnya, Al-Hasan menjabat sebagai gubernur Madinah. Di Madinah, terutama di Masjid Nabawi, dia banyak menimba ilmu dari para guru besar hadis dan fikih hingga terkenal dengan gelar nafisatul ilmi. Padahal, usianya waktu itu belum mencapai usia nikah.

Selama di Madinah, Nafisah banyak meluangkan waktu di dekat makam kakeknya, Muhammad saw. Dia menjalani zuhud (semacam asketisme) secara moderat. Sikapnya tidak berlebihan dalam menghindari dunia – semata-mata demi memusatkan perhatian untuk kegiatan ibadah dalam rangka kebahagiaan di Hari Kemudian.
Banyak orang yang menaruh minat besar kepada wawasan pengetahuannya. Rumah yang didiaminya setiap hari penuh sesak dikerumuni sehingga sempat mengganggu kegiatan rutin ibadahnya. Suatu hari, dia menyatakan kepada para pengunjung rumahnya, “Saya sudah berketetapan hati untuk mukim di negeri kalian. Namun, harus saya akui bahwa saya hanyalah seorang insan dengan kondisi fisik lemah. Orang-orang yang datang ke forum saya makin banyak hingga menghalangi saya meneruskan wirid rutin; menghalangi saya mengumpulkan bekal untuk masa depan saya di negeri akherat. Sementara, kerinduan saya kepada taman kakekku makin bertambah saja.”

Mendengar kata-kata Nafisah, orang-orang sangat kaget. Mereka tidak mengizinkan Nafisah meninggalkan Cairo, kembali ke Madinah. Maka, seorang pejabat bernama As-Sariy ibnu al-Hakam, turun tangan menengahi. Dia berkata kepada Nafisah: “Wahai cucu Rasul, saya jamin akan menemukan solusi atas apa yang Anda keluhkan.”

Setelah tujuh tahun berada di Mesir, Sayidah Nafisah menyerahkan wasiat kepada suaminya sekaligus menggali sendiri bakal kuburnya. Di sana beliau banyak membaca doa juga. Sebagaimana diriwayatkan, beliau membaca khatam Alqur’an sampai 190 kali khataman di tempat itu.

Pada bulan Ramadan tahun 207 H, saat sedang puasa, ajalnya menjemput. Kerabatnya meminta nafisah membatalkan puasanya saat itu juga, tetapi ditampiknya sembari berkata, “Aneh sekali jika saya membatalkan puasa ini, sebab sejak tiga puluh tahun lalu saya berdoa meminta bertemu Allah dalam kondisi sedang berpuasa. Tidak! Saya tidak akan membatalkan puasa hari ini.” Kemudian dibacanya firman Allah (QS al-An’am: 127), “Bagi mereka negeri yang aman pada sisi Tuhan mereka. Dia-lah Pelindung mereka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” [pkm-1431/2010-zainal], foto: ilustrasi.

Sumber:
‘Aliy Jum’ah Muhammad, Al-Mar’ah fi l-Hadlārah al-Islāmiyyah: baina Nushūshi s-Syar’i wa Turātsi l-Fiqh wa l-Wāqi’i l-Ma’īsy, Cairo: Dāru s-Salām, cet 1, 1427 H/2006 M.
Khairu d-Dīn Az-Zirikliy, Al-A’lām Qāmūs Tarājim: li Asyhari r-Rijāli wa n-Nisā’i mina l-‘Arabi wa l-Musta’ribīn wa l-Mustasyriqīn, Beirut: Dāru l-‘Ilm li l-Malāyīn, cet 16, Januari 2005, vol 8.