Endang Yuli Purwati Guru Sekaligus Ibu Asuh Anak-anak Terlantar

Posted on Posted in Tokoh

Bayangkan bila dalam satu rumah ada 16 anak yang rata-rata masih kecil. Apalagi sebagian besar anak-anak titipan, yang dilatarbelakangi beragam masalah. Mungkin kita akan pusing menghadapinya. Tapi, dengan keikhlasan dan keceriaan, itu tak masalah bagi Endang Yuli Purwati, seorang guru yang mendapatkan penghargaan sebagai salah satu wanita paling inspiratif se-Jawa Barat, dewasa ini.

Endang Yuli Purwati hanyalah guru pegawai negeri sejak tahun 1986. Namun selama tinggal di Bandung, perempuan asal Madiun ini telah membantu sekira 50 lebih anak terlantar. Sampai kini pun Endang masih betah dan bahagia bisa merawat 16 anak di rumahnya, di kawasan Kopo Bandung. Malah dari16 anak ini, kebanyakan adalah anak titipan yang rata-rata masih kecil.

“Saya ‘nggak mau memisah-misahkan mereka, mana anak kandung, mana yang bukan. Saya ‘nggak tega. Saya juga nggak tega kalau di depan rumah saya ada plang panti asuhan atau yayasan. Yang saya tahu atau memang saya kurang tahu, di zaman Rasulullah pun tidak ada namanya panti asuhan. Biarkanlah, anak-anak hidup di di sini seperti keluarga pada umumnya,” ujar Endang, yang kini masih sebagai staf pengajar Pendidikan Agama di SMU Negeri 4 Bandung.


Endang mengaku, pertama kali punya anak asuh pada tahun 1984. Sejak itu, hasrat untuk membantu anak semakin kuat. Dari kurun tahun 80-an sampai 2000-an, Endang sudah berkali-kali menjadi orangtua asuh anak-anak yang kurang mampu atau terlantar. Misalnya, ketika dia terharu mengetahui seorang muridnya yang tidak mampu bayar SPP, secara spontan, dia pun membantu anak tersebut tanpa sepengetahuan si anak. Endang meminta tolong bendahara sekolah agar memotong gajinya demi membantu SPP anak tersebut. Selanjutnya, dia pun beberapa kali membantu anak yang nyaris putus sekolah, loper koran, sampai anak tukang pulung dan pengamen. “Padahal gaji saya pas-pasan. Bahkan saya pernah meminjam uang ke bank dengan jaminan sertifikat guru. Saya sempat gali lubang tutup lobang. Tapi, alhamdulillah, Allah memberi jalan keluar. Subhanallah, nggak disangka ada teman-teman saya yang ingin membantu,” kenang Endang.

Meskipun ada bantuan dari kerabat dan teman untuk kebutuhan anak asuhnya, Endang berpegang teguh pada amanat suaminya dalam menghidupi anak-anak asuhnya itu. “Suamiku membolehkan saya menambah anak asuh, dengan tiga syarat, yakni, tidak mengeluh, tidak boleh meminta-minta, dan harus adil kepada anak-anak. Saat itu tidak terbayang bahwa itu berat. Begitu sudah ada 9 anak, wah berat juga, hehehe. Tapi alhamdulillah, lagi-lagi saya mendapat petunjuk dari Allah. Setelah baca-baca al-Qur’an, saya menemukan jawabannya. Ternyata bedanya sabar dengan tidak sabar adalah tidak mengeluh. Jadi, saya nggak mau dong Allah menjauhi saya karena suka mengeluh dan tidak sabar, “tutur Endang.

Selama hidup di Bandung, Endang sudah mengalami beberapa kali mengangkat anak orang lain yang kini menjadi tanggung-jawabnya. Endang melakukannya dengan kebahagiaan dan ketulusan. Perempuan ini mudah terharu kalau melihat anak-anak terlantar, khususnya anak-anak balita yang ibunya korban perkosaaan. Kini Endang merawat beberapa anak yang masih kecil dengan raut wajah berbeda-beda. Ada yang mirip keturunan Cina. Ada juga yang mirip keturunan Arab. “Anak-anak ini tidak tahu apa-apa. Saya kasihan juga pada ibunya. Mereka melahirkan dengan cara yang tidak dinginkan,” ujar Endang.

Selama merawat anak-anaknya, Endang selalu berharap suatu saat orangtua yang berniat mengambil anaknya lagi, bisa mengerti perasaannya. Menurutnya, kejadian seperti itu bisa menyakitkan hati. Tapi kini Endang berusaha menerima kenyataan tersebut dengan ikhlas. “Insya Allah, saya sering dinasihati suami agar selalu ikhlas. Toh anak saya juga hanya titipan Allah,” Demikian kata perempuan kelahiran 1 Juli 1959 ini, berungkap bijak. (teks & foto: yogira)