KH Ahmad Dahlan: Ulama Besar Moderat

Posted on Posted in Tokoh

“Jihad tanpa ilmu, ibarat pedang tanpa gagang. Bisa melukai”. Inilah penggalan kalimat KH Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya dalam film berjudul Sang Pencerah, produksi MVP Picture. Ya, ulama besar dari Yogyakarta ini belakangan ini popularitasnya kian mencuat di masyarakat setelah sebagian riwayat hidupnya dilayarlebarkan.

Bagi yang sudah menonton film ‘Sang Pencerah’, setidaknya tahu sekilas kehidupan KH. Ahmad Dahlan. Dari situ kita tahu, pada dasarnya KH. Ahmad Dahlan seorang yang moderat dalam menyiarkan agama Islam. Tak heran, gagasan dan pemikiran dia banyak diterima oleh kalangan muda. Dalam menyampaikan dakwahnya, KH. Ahmad Dahlan begitu lentur dan inovatif. Dia berhasil menyeimbangkan pemahaman ibadah Islam: hablum minallah dan hablun minannas.

Sebelum menyandang nama Ahmad Dahlan dari gurunya di Mekkah, dia bernama Muhammad Darwisy, lahir di Yogyakarta 1 Agustus 1868. Darwisy adalah anak dari pasangan KH. Abu Bakar dan Nyai Abu Bakar. Ayahnya dikenal sebagai ulama dan khatib Masjib Besar Kesultanan Yogyakarta. Sedangkan ibunya adalah anak dari H. Ibrahim, penghulu Kesultanan Yogyakarta. Darwisy sendiri adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Konon, keluarganya memiliki garis keturunan dari salah satu anggota Wali Sanga, yakni Maulana Malik Ibrahim.

Sejak Kecil Darwisy sudah terbiasa hidup di lingkungan keagamaan. Bersama teman sebayanya, Darwisy menuntut ilmu di pesantren. Meskipun tergolong masih anak-anak, Darwisy selalu berpandangan berbeda dengan orang pada umumnya dalam memandang ajaran Islam, apalagi yang menyangkut tradisi ritual. Menginjak remaja, tepatnya pada usia 15 tahun, Darwisy menunaikan ibadah Haji ke Mekkah. Di sana dia pun banyak belajar ilmu agama dan bahasa Arab selama 5 tahun. Guru-gurunya kebanyakan adalah pembaharu Islam. Hal inilah yang memengaruhi pemikiran dan pandangan Darwisy selanjutnya, bahkan sampai akhir hayatnya.

Sepulang dari Mekkah, Darwisy resmi menyandang nama Ahmad Dahlan. Semula kedatangannya disambut baik oleh keluarga, kerabat, dan teman-temannya. Namun, suatu ketika, beberapa orang merasa tidak sepaham dengan pandangannya tentang Islam. Bahkan, mereka menuduh Dahlan sudah melenceng dari ajaran Islam yang sudah berlaku pada masa itu. Padahal sesungguhnya, Dahlan hanya ingin meluruskan dan memperbaharui agar ajaran Islam lebih maju dari sebelumnya.

Setelah menikah dengan Siti Walidah, yang juga sepupunya, Dahlan menjadi khatib Amin di lingkungan Kesultanan dan Khatib Masjid Besar, Yogyakarta. Ketika menjabat khatib inilah Dahlan selalu berbeda pendapat dengan sejumlah kiai yang berpikiran konservatif. Salah satunya tentang masalah arah kiblat. Dahlan menyarankan agar arah kiblat masjid besar dirubah sesuai dengan kompas yang dimilikinya, tapi sebagian kiai dan ustad tidak menyetujuinya. Karena sering berbeda pendapat, akhirnya Dahlan mengundurkan diri sebagai khatib. Dia membuka pesantren sendiri dekat rumahnya.

Pada tahun 1902, Dahlan kembali naik haji ke Mekkah sembari memperdalam ilmu Islam kepada sejumlah guru di sana sampai tahun 1904. Sepulang dari Mekkah, beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1909, Dahlan masuk organisasi Boedi Oetomo. Dia pun diberi kesempatan untuk mengajar agama Islam di Kweekschool Jetis, Yogyakarta dan OSVIA, Magelang. Dari pengalaman mengajar di sinilah, wawasan Dahlan di dunia pendidikan semakin meningkat. Maka dari itu, Dahlan kemudian memutuskan untuk mendirikan organisasi yang fokus pada pendidikan dan sosial. Organisasi yang sampai sekarang dikenal dengan nama Muhammadiyah ini resmi berdiri pada 18 November 1912. Organisasi ternyata mendapat dukungan dari teman-temannya di Boedi Oetomo.

Sejak Muhammadiyah berdiri, Dahlan sempat beberapa kali mendapat cemoohan dan fitnah. Dia dianggap kafir oleh beberapa orang. Maklum, ketika Muhamadiyah didirikan, cara belajar dan fasilitas kelas yang tersedia berbeda dengan yang diterapkan pada umumnya di lingkungan sekolah agama Islam di Yogyakarta. Bahkan ketika Muhamadiyah mulai berkembang ke beberapa daerah, Dahlan sempat dituduh akan melakukan tafsir al-Qur’an baru, yang menurut kaum ulama tradisional saat itu merupakan perbuatan terlarang. Dahlan pun membela diri bahwa justru yang dilakukannya bersama Muhammadiyah demi mengembalikan kemurnian al-Qur’an dan hadits.

Meskipun beberapa golongan tidak sependapat dengan pemikiran dan pembaharuannya, toh Dahlan tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk memajukan Muhammadiyah. Bahkan, melalui organisasi ini, Dahlan semakin terkenal sebagai tokoh ulama dan pendidik di beberapa daerah. Karenanya, Dahlan pun mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia, terutama pusat perhatianya adalah dunia pendidikan.

Sejak itu, Muhammadiyah terus berkembang, tidak hanya di bidang dakwah Islam dan pendidikan, tetapi juga di bidang sosial kemasyarakatan. Ketika Muhammadiyah terus berkembang pesat, Dahlan wafat pada usia 54 tahun, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1923. Akhirnya dia pun ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional karena jasa-jasanya dalam memajukan dunia pendidikan. (yogira/berbagai sumber)

“Hidup-hidupi Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah” ( K.H. Ahmad Dahlan)