Muhammad Abduh (bagian 1)

Posted on Posted in Tokoh

Bicara AI-Azhar hari ini tidak lepas dari sosok Muhammad Abduh, seorang pembaharu pemikiran keislaman di penghujung abad 19. Kehadirannya membuat Al-Azhar tetap gagah berani menghadapi tantangan zaman.

Di antara deretan pemikiran yang ditelurkannya, beberapa tampak kontroversi dan ditolak mentah-mentah oleh sebagian ulama yang hidup setelahnya. Dan kami kira, hal itu sangat wajar. Karena tak satupun ulama yang lepas dari kritik, meskipun terkadang kritik itu juga perlu dikritisi ulang.

Betapapun, Syeikh Muhammad Abduh telah memberikan nafas baru bagi pemikiran keislaman kontemporer. Beliau berjasa banyak dalam pembaharuan di bidang pendidikan, tafsir Al-Quran, bahasa Arab, dan lain-lain. Beliau juga pernah duduk sebagai Mufti Mesir.’Akibat’ gebrakannya, kajian keislaman menjadi semakin hidup, dan melahirkan banyak pemikir-pemikir brilian hinga kini. Dan yang tak kalah penting, beliaulah yang meretas jalan menemukan harta karun umat Islam yang terpendam di dalam manuskrip-manuskrip.

Besarnya jasa itu menarik banyak perhatian. Dr. Muhammad Imarah perlu menulis profil dan pemikiran beliau ke dalam lima jilid besar buku. Sayyid Rasyid Ridla juga menulis biografi guru kesayangannya itu di dalam dua jilid buku. Untuk mengabadikan namanya, Al-Azhar membangun sebuah gedung seminar dengan nama beliau. Hingga kini, halaman kedua dari majalah Al-Azhar selalu diisi dengan tafsirnya: Al-Manar. Dan karena coraknya yang tampak baru, tafsir Al-Manar menuai banyak pujian dari para ahli tafsir, bahasa, dan pemerhati sosial.

Untuk itu, kami merasa perlu mengupas sedikit tentang profil dan jasa-jasa beliau. Diawali dengan sebuah kisah masa belajar beliau. Kisah ini didikte pada akhir hayat beliau, dan direkam langsung oleh, murid terdekatnya, Sayyid Rasyid Ridha.

Masa Belajar
Aku belajar membaca dan menulis dirumahku sendiri. Kemudian berpindah ke rumah seorang penghafal al-Quran. Di hadapannya, aku membaca Al-Quran sendiri hingga khatam untuk yang pertama kali. Kemudian aku mengulanginya, hingga sempurna seluruh hafalanku dalam waktu dua tahun.

Pada tahun kedua, beberapa anak desa menyusul. Mereka datang dari sebuah pondok untuk belajar al-Quran pada hafiz tersebut. Mereka menganggap keberhasilanku dalam menghafal al-Quran adalah karena perhatian sang hafiz.

Setelah itu, ayah membawaku ke Tanta. Di sana ada Syaikh Mujahid, saudaraku seibu, yang akan memperbaiki bacaan al-Quranku di masjid Al-Ahmady. Para ahli qiraat di sana dikenal dengan penguasaannya atas materi tajwid. Saat itu tahun 1279 H.

Pada tahun 1281H., aku mengikuti kelompok-kelompok belajar. Aku mulai dengan menghadiri halaqah Syarah al-Ajurumiyah karya Imam Al-Kafrawi di masjid Al-Ahmady. Aku menghabiskan satu setengah tahun tanpa ada satupun yang aku pahami karena buruknya metode pengajaran. Para pengajar mencecoki kami dengan istilah-istilah nahwu atau fiqh yang tidak kami pahami. Mereka juga tidak berusaha memahamkan makna istilah-istilah tersebut bagi yang belum mengetahui.

Aku pun putus asa, dan memilih menghindar dari belajar. Aku mengasingkan diri selama tiga bulan di rumah pamanku. Kemudian saudaraku menemukanku dan membawaku kembali ke masjid Al-Ahmady. Dia memaksaku agar kembali belajar. Tapi aku menolaknya.

“Aku yakin bahwa aku tidak akan berhasil dalam belajar.Kini tak ada lagi pilihan buatku selain pulang dan kembali bekerja di sawah sebagaimana kebanyakan saudara-saudaraku,” kataku. Perdebatan pun berakhir dengan kemenanganku. Maka, segara kukemasi pakaian dan barang-barangku. Aku pun pulang ke ‘Mahallat Nashr’ dengan niatan tidak akan kembali lagi untuk belajar. Akupun menikah pada tahun 1282 H.

ltulah pengalaman pertama yang aku dapati ketika menuntut i!mu di Tanta. Persis seperti itu pula yang ada di Al-Azhar. Dan pengalaman inilah yang didapat oleh 95% pelajar yang tak mempunyai kemampuan mamadai dan didampingi oleh pengajar yang tidak mementingkan metode tersebut dalam mengajar, metode penyampaian ilmu tanpa memperhatikan tingkat kesiapan pelajar.

Akan tetapi, bagi sebagian besar pelajar yang tidak paham apapun, sebenarnya mereka menipu diri mereka sendiri. Karena mereka menyangka bahwa ada yang mereka pahami. Dan mereka melanjutkan belajar dalam kondisi seperti itu sampai dewasa, padahal sebenarnya masih anak-anak. Kemudian mereka menjadi bencana bagi masyarakat dan musibah bagi orang-orang awam. Karena mereka hanya menambah kebodohan bagi orang-orang bodoh, menyesatkan mereka yang mengharapkan hidayah, dan menyakiti kaum terpelajar dengan klaim-klaimnya, serta menghalagi manfaat ilmu bagi masyarakat.

Di suatu pagi, selang 40 hari paskapernikahanku, ayah mendatangiku dan memintaku ke Tanta untuk kembali menuntut ilmu. Aku mencari-cari alasan dan berusaha menolak, namun akhirnya aku tidak mempunyai pilihan selain mentaatinya. Ayah meminta salah satu kerabatku – dia seorang yang bertubuh kekar dan pemberani – untuk mengantarku ke stasiun ‘Itai al-Barud’. Dari sana, aku naik kereta api menuju Tanta.

Hari itu cuaca sungguh panas. Udara kering disertai badai debu, yang beterbangan menutup wajah. Aku tidak sanggup lagi meneruskan perjalanan.

“Aku tidak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan dengan cuaca sepanas ini. Aku harus berhenti sejenak di sebuah tempat hingga cuaca panas mereda,” ujarku pada kerabatku. Tapi dia tak menghiraukan keluhanku.

Maka aku tinggalkan dia dan pergi dengan menaiki kuda, sambi berujar, “aku akan pergi ke ‘Kunayyasah Orin’!”, sebuah desa yang sebagian besar penduduknya adalah paman-paman ayahku.

Para remaja di desa itu sangat senang dengan kedatanganku, karena aku dikenal mahir menunggangi kuda dan bermain senjata. Mereka berharap aku mau tinggal beberapa saat untuk bermain dan bersenang-senang bersama.

Beberapa saat kemudian, saudaraku menemukanku. Dia tetap bersamaku hingga waktu asar tiba. Kemudian dia kembali mengajakku melanjutkan perjalanan. Aku katakan padanya, “Bawa saja kuda ini dan pulanglah!Aku akan berangkat ke Tanta besok pagi. Jika kamu mau, katakan pada ayah bahwa aku telah pergi ke Tanta. Dia pun pergi dan menyampaikan apa yang aku sampaikan. Dan aku berada didesa ini selama lima belas hari. Di sinilah kehidupan dan cita-citaku benar-benar berubah.

Hal tersebut terjadi karena salah satu paman ayahku, Syeikh Darwis, telah melakukan perjalanan ke gurun Libya. Dalam perjalanannya,beliau telah sampai di ‘Tharabils Al-Garb’. Di sana beliau bertemu dengan Sayyid Muhammad Al-Madani, ayah dari Syeikh Dhofir yang terkenal. Beliau dulu tinggal di ‘Istanah’dan wafat disana pula. Syeikh Darwis berguru dan mengambil sanad tarekat Syadziliyah dari Sayyid Muhammad Al-Madan. Dari beliau juga Syeikh Darwis menghafal Al-Muwattha’dan beberapa kitab hadist, menghafal Al-Quran serta memahaminya. Beliau kembali ke desa ini menyibukkan diri dengan kesibukan sebagian besar masyarakat; bekerja dan mengais rizki dengan bertani.

Di suatu pagi buta, Syeikh Darwis mendatangi penginapanku di Kunayyasah. Di tangan beliau ada sebuah kitab yang mencakup beberapa risalah, yang ditulis khusus oleh Syaikh Muhammad Al-Madani untuk sebagian muridnya. Ditulis dengan khat Maghriby yang rapi.

Karena penglihatan beliau sudah melemah, beliau kemudian memintaku untuk membacakan sebagian tulisan tersebut. Aku menolak permintaan beliau dengan kasar. Aku mengutuk pekerjaan membaca dan siapapun yang sibuk membaca. Aku berpaling darinya dan menjauh. Ketika tulisan itu diletakkan didepanku aku melemparnya jauh-jauh. Akan tetapi, Syeikh Darwis hanya tersenyum lembut. Beliau tetap bertahan bersamaku beberapa saat lamanya. Akhirnya, aku mengambil dan membacakan beberapa baris dari risalah tersebut. Seketika, Syeikh Darwis menjelaskan makna-makna dari apa yang aku baca dengan jelas, yang mampu melunakkan sifat kerasku dan menghujam jiwaku.

Tiba-tiba datanglah teman-temanku, mengajakku bermain pedang, menunggang kuda, dan berenang di sungai dekat desa. Aku menaruh kitab itu dan beranjak pergi bersama mereka.

Selepas asar, Syeikh Darwis menemuiku dengan kitabnya dan mendorongku untuk membacakannya. Aku pun membacanya dan beliau menjelaskan. Lalu kutaruh lagi kitab itu dan pergi bermain. Begitu pula yang kulakukan pada hari kedua.

Pada hari ketiga, aku kembali membacanya dan beliau menjelaskan apa yang aku baca sampai sekitar tiga jam, namun aku tak merasa bosan. Beliau kemudian berkata bahwa ada yang harus dikerjakan di sawah. Aku memintanya agar kitabnya tetap bersamaku. Beliau mengizinkan.

Akupun memulai membacanya. Setiap kali aku temukan kalimat yang tidak aku pahami, aku menandainya untuk kutanyakan kepada beliau nanti. Hingga tiba waktu Zhuhur. Pada hari itu, aku memendam keinginanku untuk bermain-main selama seharian penuh.

Saat asar tiba, kutanyakan kepada Syeikh Darwis hal-hal yang tidak aku pahami. Beliaupun menjelaskan dan menerangkan setiap detailnya sebagaimana biasa. Aku sangat bahagia, karena kini aku menjadi cinta belajar dan mempunyai kemauan untuk paham.

Risalah tersebut berisi beberapa maklumat kesufian. Sebagian besar pembahasan di dalamnya adalah tentang pendidikan dan pelatihan jiwa. Membersihkannya dari akhlak rendah, serta anjuran untuk berlaku zuhud terhadap dunia.