Pemain Muslim di Piala Dunia 2010 (dari Belanda)

Posted on Posted in Tokoh

Seperti juga negara Prancis dan Jerman, negeri “Kincir Angin” Belanda sangat menghargai perbedaan budaya dan agama, termasuk dalam urusan sepakbola. Faktanya, tim nasional Belanda kini memilih tiga pemain muslim untuk skuad di Piala Dunia 2010. Mereka adalah Robin Van Persie (penyerang), Ibrahim Afellay (gelandang), dan Khalid Boulahrouz.

Belanda difavoritkan sebagai juara Piala Dunia 2010, Afrika Selatan. Setelah menjadi juara di grup penyisihan, tim Oranye ini harus berhadapan dengan Jepang di babak perdelapan final. Dari sekian pemain yang terpilih dari berbagai klub, tiga pemain muslim: Van Persie, Afellay, dan Boulahrouz menjadi tulang punggung tim, yang performanya tak diragukan lagi.

Robin Van Persie (Posisi : Penyerang)

Inilah salah satu pemain muslim asal Belanda yang paling ternama di mata muslim dunia. Padahal Persie baru masuk Islam pada tahun 2004 setelah menikah dengan perempuan berdarah Belanda-Marokko, bernama Bouchra. Setelah resmi menjadi suami Bouchra, Persie berusaha menjadi muslim yang taat. Waktu sekolah dasar, sebenarnya Persie sempat berteman akrab dengan penjaga sekolah seorang muslim. Jadi, dari dulu dia sudah tahu tentang ajaran Islam.

Persie lahir di Rotterdam Belanda, 6 Agustus Agustus 1983. Rumor menariknya, Persie punya darah keturunan Indonesia karena neneknya diduga orang Surabaya. Terlepas rumor ini benar atau tidak, yang jelas dia diduga kuat berdarah Marokko juga, sama seperti istrinya. Sejak bergabung dengan klub Arsenal, Persie pun memboyong istri dan anaknya dari Feyenoord (kota tempat klub sebelumnya) ke London, Inggris. “Saya bahagia sekali bisa berkumpul dengan anak dan istri. Kalau pulang ke rumah, saya ingin segera menikmati masakannya. Dia seorang koki yang hebat,” kata Persie. Makanya, kalau Ramadhan tiba, Persie selalu berusaha sebisa mungkin berpuasa karena ingin menikmati hidangan istimewa buatan istrinya untuk berbuka puasa dan sahur.

Ibrahim Affelay (Posisi : Gelandang)

Persie boleh lebih populer di mata muslim dunia. Tapi bagi muslim yang tinggal di Belanda, Ibrahim Affelay yang paling tersohor. Maklum, pemain PSV Eindhoven ini dinobatkan sebagai “Moslim van het jaar” (muslim tauladan di Belanda). Bahkan dalam ajang pemilihan ini, Affelay mengalahkan seorang ulama besar Belanda. Dalam situs www.wijblijvenhier.nl, disebutkan bahwa alasan Affelay terpilih karena dia masih muda sehingga bisa membangun citra muslim di kalangan remaja. Ya, pemilihan ini memang bukan isapan jempol belaka. Dalam kesehariannya, remaja keturunan Marokko ini memang anak yang saleh. “Bagi saya agama tetap nomor satu bahkan setelah sepakbola. Dengan berpegang pada agama, semoga saya melakukan yang terbaik dalam karir saya,” kata Affelay.

Di klubnya, PSV Eindhoven, Affelay selalu berpuasa saat Ramadhan tiba. Saat waktu luangnya, dia berkumpul dengan keluarganya mengaji bersama. Affelay terlahir dari keluarga yang hidup sederhana. Pemain berwajah imut ini lahir di Utrecht 2 April 1986. Di negeri Belanda sendiri, kini Affelay menjadi idola remaja, tidak hanya di mata remaja muslim, tetapi juga remaja nonmuslim.

Khalid Boulahrouz (Posisi : Pemain Belakang)

Pemain Belanda keturunan Marokko ternyata cukup banyak dan rata-rata mereka muslim. Khalid Boulahrouz salah satunya. Di tim nasional maupun di kalangan muslim, mungkin Boulahrouz kalah populer dibanding Persie dan Affelay. Namun dalam urusan spiritual, Boulahrouz layak diacungi jempol. Menurut orang-orang terdekatnya, Boulahrouz sering terlihat membaca al-Qur’an dan I’tikaf di masjid. “Saya harus banyak belajar tentang Islam dan berusaha menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya. Saya juga berusaha menyempatkan mengaji al-Qur’an supaya saya merasa hidup dalam kedamaian.” Kata pemain Stuttgart kelahiran Maassluis, 28 Desember 1981 ini

Boulahrouz boleh dibilang salah satu pemain Belanda berperilaku kalem. Meski begitu, di klub dan tim nasional, dia mampu menahan laju serangan lawan. Sebagai pemain belakang, Boulahrouz mencoba bermain lebih dewasa dan tidak serampangan karena menurutnya bisa berisiko memancing emosi. “Di lapangan saya selalu berusaha meredam emosi karena itu bagian dari kesabaran. Agama saya selalu mengajarkan pentingnya kesabaran dalam situasi apapun, “ ujar Boulahrouz berkata bijak. (yogira/www.wijblijvenhier.nl,www.robinvanpersie.azplayers.co,www.maghrebmagazine.nl,berbagai sumber)