Pemain Muslim Piala Dunia 2010 (Dari Ghana)

Posted on Posted in Tokoh

Tim sepakbola Ghana adalah satu-satunya dari tim benua Afrika yang lolos ke babak knock off Piala Dunia 2010, di Afrika Selatan. Bahkan berhasil masuk perdelapan final setelah mengkandaskan Amerika Serikat 2-1.Ternyata tim ini memasukan dua orang muslim yang cukup taat. Mereka adalah Sulley Muntari dan Stephen Appiah.

Negeri Ghana mayoritas berpenduduk Kristen dan sekitar 20 persen adalah Muslim. Negeri ini sebenarnya sering dilanda kemelut perang saudara. Namun di dunia olahraga sepakbola, Ghana layak diperhitungkan. Dari sekian banyak pemain sepakbola Ghana, ada dua pemain muslim yang berprestasi, yakni Sulley Muntari dan Stephen Appiah.


Sulley Muntari


Di klubnya, Intermilan, Italy, Sulley Muntari sempat diberitakan bersitegang dengan pelatih Jose Mourinho, perihal Ramadhan. Muntari yang ingin tetap berpuasa penuh ketika Ramadhan tahun lalu, ditegur oleh Mourinho karena dianggap bisa membuatnya letih dalam latihan dan pertandingan. Untung saja, perseteruan ini tidak terus berlanjut. Mourinho bisa menghargai Muntari.

Ya, Muntari adalah muslim yang taat. Dalam beberapa pertandingan bersama Intermilan, para penonton melihat dia selalu bersujud, terutama setelah mendapat kemenangan. Di Italy yang mayoritas agama Kristen menghargai cara Muntari bersyukur sesuai ajaran Islam. “Kami sangat senang dia memperlihatkan spiritualitasnya dalam keadaan apapun, termasuk dalam sepakbola,” ujar Hamza Piccardo, direktur Islam online Italy.

Muntari lahir di Konongo, Ghana 27 Agustus 1984. Masa kecilnya akrab dengan sepakbola jalanan. Meski begitu, dia adalah anak yang rajin shalat dan puasa. “Dulu saya bermain bola sama teman-teman sampai taruhan karena kami tidak punya uang untuk sekolah. Ibuku tahu dan memarahiku karena tidak baik muslim bermain taruhan. Sejak itulah saya tidak mau jadi anak nakal lagi meskipun sekolah saya dulu bukan sekolah Arab,” kata Muntari.

Stephen Appiah

Stephen Appiah adalah kapten kesebelasan Ghana pada Piala Dunia 2010 ini. Dia termasuk muslim yang taat juga. Ketika baru tiba di Italy sebagai pemain Udinese tahun 1997, dia sempat kebingungan mencari makanan yang halal. Makanya, beberapa tahun kemudian dia sempat senang ditransfer ke klub Fenerbache, Turky, yang memang penduduknya mayoritas muslim.

Namun pada musim 2009 ini, Appiah kembali ke Italy untuk memperkuat Bologna. Dia pun belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya. Untung saja, di Bologna, rekan setimnya selalu membantu Appiah mencari makanan halal. Dan dalam ibadah shalat dan puasa pun, klubnya memberikan keringanan. (yogi/www.news.myjoyonline.com/berbagai sumber)