Workshop Perencanaan Keuangan Syariah 2015: “Mari Rencanakan Masa Depan Sejahtera”

Posted on Posted in What's on

Mengingat pentingnya perencanaan keuangan, khususnya secara syariah, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Direktorat Industri Keuangan Non Bank Syariah, didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyelenggarakan “Workshop Perencanaan Keuangan Syariah 2015”.

Tidak tanggung-tanggung, workshop diadakan secara serentak di sembilan kota di Jawa Barat, yaitu: Bandung, Cianjur, Ciamis, Cirebon, Garut, Karawang, Sukabumi, Bekasi, dan Depok. Bahkan di Bandung, workshop diadakan di dua tempat sekaligus, sehingga total workshop yang diadakan pada hari Sabtu, 6 Juni 2015 itu menjadi sepuluh workshop.

Workshop dengan total peserta sekitar seribu orang ini tercatat dalam rekor MURI untuk kategori penyelenggaraan literasi keuangan syariah secara serentak dan terbanyak di Indonesia.

Di Depok, workshop ini diadakan di Hotel Bumi Wiyata, dengan narasumber Prita Hapsari Ghozie. Diawali dengan pembacaan ayat Al-Qur’an oleh Zulkifli, acara dibuka pada pukul 08.30 WIB. Sebelum memasuki acara inti, Trisman dari OJK dan Dr. Aviliani, Ketua Pengurus Pusat MES memberikan sambutannya.

2 3

Jika Trisman menjabarkan bagaimana ekonomi syariah semakin berkembang ditandai dengan keberadaan berbagai industri keuangan berbasis syariah sehingga semakin penting bagi kita untuk memahami dan terlibat di dalamnya, Dr. Aviliani menyatakan betapa masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak merencanakan masa tuanya, khususnya dalam pengelolaan keuangan. Kesadaran dan pemahaman akan pentingnya asuransi dan investasi misalnya masih sangat minim. Oleh karena itu, keduanya berharap agar workshop tersebut dapat membantu peserta untuk lebih memahami perencanaan keuangan syariah, menerapkan, serta turut menyosialisasikannya pada masyarakat.

Prita kemudian membawakan materi workshop yang disusun oleh Tim Komite Bidang 27; Perencanaan Keuangan, Pemberdayaan Perempuan dan Sumber Daya Keluarga MES, dengan tema “Mari Rencanakan Masa Depan Sejahtera”. Workshop ini memang merupakan bagian dari program kerja Tim Komite Bidang 27, di mana Prita menjadi salah seorang pengurusnya.

Materi dibagi menjadi tiga bagian: 1. Pola Pikir untuk Berubah; 2. Mengatur Arus Kas; 3. Menyiasati Masalah Keuangan. Dalam kurang lebih dua jam, Prita menjelaskan kriteria perencanaan keuangan syariah dan perbedaannya dengan yang non-syariah, keberadaan inflasi, bagaimana kita perlu berfokus pada manajemen internal rumah tangga untuk menghadapi berbagai tantangan kondisi keuangan di luar sana, pentingnya asuransi dan dana darurat, serta pembagian pos keuangan sesuai dengan prioritas secara syariah, yaitu: a. Zakat, infak, sedekah (2,5%-10%); b. Cicilan utang (maksimal 35%); c. Tabungan dan investasi (minimal 10%); d. Biaya hidup (40%-60%); e. Hiburan (maksimal 10%). Pembagian tersebut akan efektif bila dilakukan ke dalam rekening bank yang terpisah.

4

1

Sebelum ditutup, Muchlas, AMKL, Ketua Pengurus Koperasi Serba Usaha Bina Usaha Sejahtera, berbagi kisah tentang pentingnya menyeimbangkan antara usaha secara ilmu duniawi dengan mendekatkan diri kepada Allah swt. dalam mencari dan mengelola rezeki. Shalat Dhuha dan sedekah (juga infak dan zakat) karenanya perlu menjadi bagian darinya. Itu pula sebabnya dalam perencanaan keuangan syariah zakat, infak, dan sedekah menjadi prioritas utama dalam penggunaan uang kita.

Dalam workshop, peserta juga diberi kesempatan untuk melakukan tanya jawab dan mencoba mempraktekkan cara pembagian pendapatan dengan sepuluh orang tercepat yang menjawab benar mendapat hadiah berupa kaos atau buku. Setelah workshop ditutup pada pukul 12.30 WIB, peserta dipersilakan untuk berfoto bersama kemudian menikmati jamuan makan siang yang telah disediakan. [aca]