Kampung Belajar, Wahana Pendidikan Untuk Anak-anak Desa

Posted on Posted in You Can Do It

Sekumpulan mahasiswa mendirikan komunitas Tepas Institute pada tahun 2000. Salah satu tujuannya, memberdayakan masyarakat dalam bidang pendidikan. Realisasinya, mereka mencanangkan program ”Kampung Belajar” untuk mendidik anak-anak putus sekolah di pelosok desa.

Aksi mahasiswa membela rakyat dengan cara demonstrasi memang lebih populer ketimbang aksi mahasiswa yang memberdayakan rakyat dengan program pendidikan. Namun, dari sisi manfaatnya, aksi nyata mahasiswa untuk membantu rakyat dengan pendidikan, itu lebih mulia ketimbang aksi demonstrasi. Mungkin alasan itulah yang mendorong sekumpulan mahasiswa di Tepas Institute untuk menciptakan program ”Kampung Belajar.”

kampung belajar
kampung belajar

Meskipun sudah berdiri tahun 2000, Tepas Institute enggan terburu-buru merealisasikan program Kampung Belajar ini. Sambil terus berdiskusi, mereka mencari-cari format yang tepat untuk menjalankan pemberdayaan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan sosial. Barulah, pada tahun 2008, mereka melahirkan program pendidikan yang fokus di pedesaan. Alasannya, di pedesaan masih banyak anak-anak putus sekolah dan kurang menyadari pentingnya pendidikan untuk masa depan mereka.

roni tabroni
roni tabroni

Ketua Program Kampung Belajar, Roni Tabroni mengatakan, kelahiran Kampung Belajar melalui proses panjang dan berliku. Apalagi fokusnya pada masyarakat desa yang kesadaran pada pendidikan masih relatif rendah. ”Persoalannya bukan pada rendahnya dari kemampuan materi ekonomi, melainkan karena budayanya. Bagi mereka, putus sekolah merupakan hal biasa. Itu karena spirit belajar mereka rendah. Jadi, persoalannya pada motivasi belajar,” ujar Roni.

Dengan alasan itulah Roni dan sejumlah relawan pendidikan bekerja sama dengan masyarakat untuk membangun semacam proyek percontohan wahana pendidikan di beberapa desa. Sementara ini yang sudah berjalan berlokasi di Kampung Bungur (Cipatat, Kab. Bandung), Kampung Calincing (Sukahening, Tasikmalaya), Kampung Dukuh Badag (Cibingbin, Kuningan), dan Kampung Warung Bungur (Skaraja, Tasikmalaya). Menurut Roni, rencana ke depan, program Kampung Belajar akan dibangun juga di beberapa wilayah di Jawa Barat, kira-kira 5 sampai 10 tahun mendatang.

Untuk membangun Kampung Belajar, biasanya warga kampung setempat memberikan fasilitasnya, seperti yang dilakukan oleh Kin Kin Pramulia, Ketua RW Kampung Bungur Cipatat. Kin kin menyediakan lahan miliknya untuk dibangun tempat belajar anak-anak kampung tersebut. ”Setelah ada Kampung Belajar di sini, minat anak-anak terhadap pendidikan meningkat. Ini juga berkat swadaya masyarakat yang menyediakan fasilitasnya,” kata Kin kin.

Aktivitas pendidikan di Kampung Belajar bermacam-macam. Selain bimbingan belajar dan menulis, para peserta Kampung Belajar mendapatkan wawasan melalui program acara nonton film edukatif, simpan pinjam buku, dan outbound. ”Jadwal kegiatan dan pembelajaran tidak mengikat, tapi tergantung kesiapan dan kesediaan waktu para relawan. Pokoknya, kami tidak mau membebani mereka,” kata Roni.

Untuk memotivasi anak-anak agar mau sekolah, sekali-kali Kampung Belajar mendatangkan mahasiswa atau calon profesi, seperti calon dokter dan calon guru. Cara ini cukup efektif untuk memompa semangat anak-anak dalam meraih cita-cita. Misalnya, ada anak-anak yang bercita-cita menjadi dokter gigi, maka Kampung Belajar mendatangkan calon dokter gigi. Calon dokter gigi ini memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada anak-anak bagaimana rasanya menjadi dokter gigi. Demikian pula dengan anak-anak yang bercita-cita menjadi polisi, Kampung Belajar mendatangkan juga polisi. [teks & foto: yogira]

Informasi:

Kantor Pusat Kampung Belajar

JL. Cikadut No.54 Mandalajati, Bandung

Telpon: [022] 76611450

E-Mail: kampung_belajar@yahoo.com

Website: www.kampungbelajar.com